Siapakah Ajisaka???

Banyak para pujangga / penulis yang menceritakan kisah Ajisaka menjadi dongeng ataupun cerita yang sulit dicerna akal yang sehat. Anda bisa searching di Google yang menceritakan/mendongengkan kisah Ajisaka menjadi sebuah dongeng.

Siapakah Ajisaka yang disebut Sesepuh Jawadwipa? Ajisaka dari kata sanskrit Ajivaka artinya pertapa pengelana. Nama aslinya Siddhattha Sanjaya, yang berarti yang tercapai cita-cita sebagai pemenang. Masa hidupnya sejaman dengan Pangeran Siddhartha Gautama (sekitar 563-483 SM). Berasal dari Keling (India) ada pula yang menyebut dari negeri Rum. Dalam serat Ramalan Jayabaya Gancaran disebutkan bahwa negeri Rum atau disebut Brusah terletak di sebelah utara Negeri Arab (sekarang Turki).

Berdasarkan isi yang bersumber pada Serat Sindula atau serat Babad Pajajaran Kuda Laleyan dan Serat Witoradyo, cerita Aji Saka merupakan cerita legendaris, dimana dimunculkan kepahlawanan seorang tokoh dalam lingkup Budaya Jawa (Schrike, Jl: 77; Raffles, 1978: 212). Seperti hanya Aji Saka di daerah Kabupaten Grobogan juga merupakan cerita mitologis, yaitu cerita yang bersangkut paut dengan kepercayaan asli masyarakat. Oleh karena itulah maka cerita dalam penyajiannya, cerita Aji Saka diciptakan dalam bentuk cerita "lambang" bagi penetrasi dari budaya asal dan Hindu di Jawa.

Di sini cerita Aji Saka dapat dikelompokkan sebagai cerita yang mengandung unsur-unsur mesiahisme, yaitu karya penyelamatan umat manusia dari kehancuran. Aji saka sebagai Mesias menghancurkan penguasa kejam : Dewata Cengkar.

Beberapa data dari sumber tradisional juga terdapat dalam :

a. J. Kats, I, 1950: Punika Pepethikan saking Serat-serat Jawi Ingkang Tanpa Sekar. (Hal. 3-5).

Nyai Randa wicanten dhateng Aji Saka, "Negara kene wis misuwur yen ana Brahmana sekti mandraguna, bagus isih enom, limpad ing ngelmu panitisan, pingangkane saka Sabrang anga jawa". Aji Saka gumujeng amangsuli, "Dora ingkang awartos puniko, angindhakaken ing kayektosanipun. Wondene ingkang kawartos puniko inggih kula".

b. Primbon Jayabaya, Tan Khoen Swie, Kediri, 1931: (hal. 10;27)

Jangaran jaman Kala Dwapara ... Prabu Sindula, Galuh turun kapindho, jejuluk Sri Dewata Cengkar, angedhaton ing Mendhang Kamulan. Iku Ratu luwih niyaya, mangsa padha manungsa. Tan antara lama kasirnakake prajurit saka tanah Ngarab jejuluk Empu Aji Saka ... Karsaning Pangeran Sang Aji Saka jumeneng Nata ing Sumedhang Purwacarita, jejuluk Sri Maha Prabu Lobang Widayaka.

c. Serat Jangka Jagad, Kwa Giok Jing, Kudus, 1957 : hal. 51.

Lha ing kono tanah Jawa banjur ana kang jumeneng nata kang karen mangan daging manungso, yaitu Ratu Dewata Cengkar, nata ing Medhang Kamulan. Ora lawas banjur ketekan sawijining Brahmana saka ing tanah Ngarab, juluk Aji Saka. Brahmana sekti mandraguna kang bisa ngasorake Prabu Dewata Cengkar …

d. RNG. Ronggowarsito, Serat Witoradyo, III. Surakarta: Albert Rusche & Co, 1922: hal. 11-23.

Diceritakan, bahwa di tanah Lampung berdiri sebuah kerajaan dengan rajanya Prabu Isaka berasal dari tanah Hindu.

Sang Prabu Isaka turun takhta dan digantikan oleh Patihnya bernama Patih Balawan. Kemudian dengan empat orang pengiringnya, Sang Isaka yang telah menjadi seorang Brahmana pergi ke tanah Jawa dan tiba di Ujung Kulon (Kulon?). Di situ mendirikan perguruan dan dia sebagai gurunya dengan gelar Sang Mudhik Bathara Tupangku. Muridnya bertambah banyak. Di dalam perguruan itu diajarkan ilmu kesusastraan, ilmu penitisan (Reinkarnasi) dan ilmu keagamaan. Beberapa lama di Ujung Kulon, dia pergi ke Galuh dan kemudian terus mengembara ke tanah timur. Sampailah di negara Medhang Kamulan yang rajanya bernama Prabu Dewata Cengkar.



- Di dalam Primbon Jayabaya (hal. 27) dikatakan bahwa Aji Saka naik takhta di negara Sumedang Purwacarita. Perkataan "Sumedhang" di sini dimaksudkan kota Medhang yang sangat baik. Jadi Sumedang Purwacarita artinya ibukota Medhang yang sangat baik bagi (negara) Purwacarita. Purwa berarti permulaan; carita berarti cerita, kejadian, purwaning dumadi, sangkan paraning dumadi. Dengan demikian Sumedhang Purwacarita identik dengan Medhang (Mendhang) Kamulan yang lahir di Ma-tarum (antara CiManuk dan Citarum) negeri ibu, ibu pertiwi yang pertama kali.






- Bila kita tinjau letak geografisnya, memang lebih sesuai, sebab didaerah tersebut mudah mencari air, padahal setiap makhluk membutuhkan air. Daerah ini memanfaatkan air sungai Lusi dan beberapa anak sungainya untuk lalu lintas, pengairan kebutuhan hidup sehari-hari. Lagi puia daerah ini tidak jauh dari laut, bahkan mungkin terletak di tepi pantai Laut Jawa.

- "Purwa" berarti "permulaan" (Jawa: kawitan). "Dadi" artinya "jadi" (Jawa : Dumadi). Yang mula-mula jadi, purwaning dumadi, sangkan paraning dumadi. Hal ini dikaitkan dengan ceritera Aji Saka dengan Carakan Jawanya yang mengandung hidup, dan kehidupaan manusia "Manunggaling Kawula Gusti", dari sejak asal mula manusia di dunia ini.





Ngaji Diri ngaji Rasa...jagat leutik (kadirina) jeung jagat Gede (Kaalamna), ngajirimna manusa...Da aya nu ngausik-malikeun-NA


Tabe pun,
_/|\_

Rahayu Sagung Dumadi.


===========================


AJISAKA PURWAWISESA

Oleh : Lucky Hendrawan

Sama halnya legenda Sangkuriang, masyarakat di Jawa Barat mengenal kisah Ajisaka Purwawisesa dan seperti biasanya legenda ini mengundang banyak versi (sudut pandang) dalam soal pemaknaan, dilain pihak ada sebagian masyararakat yang menganggap bahwa legenda ini hanyalah tuturan dongeng tanpa makna (hiburan biasa) seperti karya-karya para sastrawan Barat sekelas Hans Christian Andersen atau William Shakespeare.

Sesungguhnya sebutan Ajisaka Purwawisesa itu adalah nama lain atau Sandi Ajaran Sunda milik bangsa Galuh Agung yang disampaikan oleh Sang Sri Rama Mahaguru Ratu Resi Prabhu Shindula - Hyang atau Sang Hyang Watugunung Ratu Agung Manikmaya atau sering disebut sebagai Aji Tirem (Aki Tirem).


Ringkasan kisah legenda Ajisaka Purwawisesa adalah sebagai berikut :

Dikisahkan bahwa Ajisaka adalah penguasa Majati, ia memiliki dua ponggawa yang bernama Dora dan Sembada. Dora diajak menemani Ajisaka berkelana dan Sembada diperintahkan menjaga pusaka di Majati agar tidak diambil oleh siapapun kecuali oleh Ajisaka.

Lalu, Ajisaka dan Dora bertemu dengan Prabhu Dewata Cengkar penguasa Medang Kamulan yang gemar memakan manusia. Pada awalnya Dewata Cengkar adalah orang baik, ia jadi menyukai manusia karena Juru Masak istana terpotong telunjuknya dan masuk ke dalam makanan yang disajikan kepada Dewata Cengkar.

Ajisaka ‘menawarkan’ diri untuk dimakan oleh Dewata Cengkar dengan imbalan diberi tanah seluas dan sepanjang ikat kepalanya. Ikat kepala ditarik oleh Dewata Cengkar dan terus memanjang hingga ke tepi jurang di bibir laut. Ajisaka mengalahkan Dewata Cengkar oleh ikat kepalanya hingga penguasa Medang Kamulan itu terjerumus ke dalam laut dan berobah menjadi Buaya Putih.

Setelah Ajisaka menggantikan Dewata Cengkar sebagai Raja Medang Kamulan ia memerintahkan Dora untuk mengambil pusaka di Majati yang dijaga oleh Sembada. Sesuai perintah Ajisaka Sembada tidak memberikan kepada Dora hingga keduanya saling bertempur hingga tewas. Lalu untuk mengabadikan kedua ponggawanya Ajisaka Purwawisesa menciptakan aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka atau sering disebut sebagai huruf Palawa.

Berdasarkan legenda di atas setidaknya dapat ditelusuri dan dikaji beberapa hal yang berkaitan dengan objek serta penamaan yang tercantum dalam cerita tersebut, yaitu :


1. Ajisaka Purwawisesa
–  Aji = Ajar / Ajaran
–  Saka = Pusat Inti / Pilar Utama / Inti Utama (Wiwitan)
–  Purwa = Purba / Masa lalu yang sangat lama / Jaman dahulu sekali atau boleh jadi maksudnya adalah "Leluhur" (?)
–  Wisesa = Kuasa / Penguasa / Kekuasaan / Yang berkuasa.


Maka, Ajisaka Purwawisesa, itu kira-kira mengandung beberapa makna sebagai berikut :
–  Pilar utama ajaran para penguasa jaman dahulu.
–  Ajaran utama (para) penguasa masa lalu.
–  Inti ajaran para Leluhur yang berkuasa
–  atau boleh jadi artinya "Ajaran Wiwitan Sunda"


2. Majati
–  Ma = Ibu / Ambu / Indung
–  Jati = Sejati
–  Atau bisa jadi artinya Ra-Ma-Jati (Ibu Matahari yang Sejati)

Maka, sebutan “Majati” mengandung makna “Ibu Sejati”. Dalam hal ini masyarakat Nusantara khususnya Jawa Barat meyakini/ menganggap bahwa ibu yang sejati itu adalah “Ibu Pertiwi” (Tanah Air), kadang mereka menyebutnya juga sebagai Indung Jati atau Indung Agung yaitu “Tanah para Leluhur” tempat bersemayamnya para “Hyang” (Eyang/ Biyang/ Moyang) di kawasan Bandung Utara – Jawa Barat.


3. Dora dan Sembada
–  Dora = Dora ka….., berbohong, tidak jujur, menipu, berdusta
–  Sembada = Makmur, sentausa, berkecukupan (kaya), kuat

Dengan demikian dalam kisah ini menunjukan bahwa Ajisaka membawa berita buruk tentang “kebohongan” (Dora), sedangkan yang ditinggalkan untuk menjaga “Pusaka Ibu Pertiwi (Ma-Jati)” adalah kebaikan “kemakmuran/ kesentausaan” (Sembada).


4. Medang Kamulan
–  Medang / Madang (Ma-Da-Hyang) = Ibu Agung, Lumbung Padi, boleh jadi maksudnya adalah “Ibu Kota” (Jawa).
–  Kamulan = Kemuliaan


“Medang Kamulan” berasal dari kata Ma (Ibu) – Da (Agung/ Besar) – Hyang (Leluhur) – Kamuliaan. Jadi makna keseluruhan dari istilah Medang Kamulan itu adalah “(yang) Mulia Ibu Hyang Agung” atau Ibu Negeri (Ibu Kota) Kemaharajaan Nusantara di Pulo Jawa. Dalam catatan sejarah wilayah Keraton (Keratuan/ Pusat Pemerintahan) Nusantara disebut Ka-Lingga, kelak di jaman Ra-Hyang Sanjaya berganti menjadi Bumi Mataram (abad ke VIII).


Maka cerita Ajisaka telah menunjukan letak kejadian atas peristiwa yang sesungguhnya, yaitu di “Mataram Kuno” sebagai representasi atas pulo Jawa sebagai wilayah Ibu Kota dan Nusantara secara keseluruhan.


5. Juru Masak
–  Juru = Ahli (mis : juru pantun = ahli pantun), ‘pemimpin’ (mis : juru mudi, juru selamat), namun bisa juga artinya “sudut” (yang tersudutkan/ terdesak).
–  Masak = Matang, Tua.


Dengan demikian “Juru Masak” merupakan silib-siloka dari “Tetua yang tersudutkan” atau “Ketua yang terdesak”. Pada prinsipnya ia adalah “penguasa gudang makanan”. Di dalam legenda ini tampaknya ‘istilah’ sang “Juru Masak” ditujukan untuk menyembunyikan status Penguasa Medang Kamulan (Maharaja Nusantara di Pulo Jawa).


6. Telunjuk
Telunjuk = silib-siloka “pemerintah penguasa”
“Telunjuk” adalah silib-siloka “kekuasaan” maka dalam legenda Ajisaka Purwawisesa pada bagian “telunjuk Juru Masak” terpotong dan dimakan oleh Dewata Cengkar itu menyiratkan tentang hilangnya kekuasaan penguasa negara (Maharaja Nusantara di Pulo Jawa) ‘disantap’ oleh Dewata Cengkar.

Rakyat Medang Kamulan
Rakyat (manusia) dimakan oleh Dewata Cengkar, hal ini tentu saja menunjukan bahwa masyarakat Medang Kamulan sebagai representasi Ibu kota Nusantara di Pulo Jawa dalam keadaan ditindas dan dijajah oleh Dewata Cengkar atau maksudnya berada dalam kekuasaan ‘Dewata Cengkar’.

Ikat Kepala
Pola bentuk ikat kepala yang terbanyak di dunia hanyalah di Nusantara. Ikat kepala bukan sekedar fungsi ataupun identitas, ia mengandung filosofi yang sangat dalam. Ikat kepala adalah perlambang “leluhur” maka dalam legenda Ajisaka ini menunjukan bahwa Dewata Cengkar dikalahkan oleh “ilmu para leluhur” hingga ia terusir dari Medang Kamulan – Bumi Mataram.

9. Dewata Cengkar
–  Dewa = Cahaya (*bukan Sinar / bukan Matahari)
–  Ta = Gerak Hidup
–  Cengkar = Tempat yang luas tandus dan gersang, tempat kering berpasir dan berbatu (padang pasir).

Jika ditelaah berdasarkan kata-perkata tampaknya sosok “Dewata Cengkar” ini adalah simbol “penguasa” yang datang dari wilayah gersang dan tandus (padang pasir) lalu menguasai Negeri Lumbung Padi (Medang Kamulan) Ibu Kota Mataram kuno di Pulo Jawa atau representasi dari Nusantara.

Buaya Putih
Tentu saja di dunia ini tidak pernah ada buaya yang ‘berwarna’ putih, apalagi ia jenis mahluk yang biasa tinggal di lumpur (‘kotor’). Dalam sudut pandang masyarakat pulo Jawa (dan Nusantara) pada umumnya sosok “Buaya” merupakan perlambang “keburukan” misalnya; Air mata buaya, Buaya Darat, Bajul buntung, dll. Dengan demikian makna yang terkandung dalam kisah Dewata Cengkar berobah menjadi “Buaya Putih” itu maksudnya adalah; terbongkar penyamaran Dewata Cengkar dan terkuak keburukannya namun demikian ia masih juga ada di “tanah-air” dengan berkedok kesucian.

Aksara Ha-Na-Ca-Ra-Ka
Perihal ini merupakan simbol tentang “ajaran” para Leluhur Nusantara (Agama Sunda) yang dibawa dari Majati oleh Ajisaka Purwawisesa, yaitu ajaran lokal/ nilai-nilai lokal/ ‘bahasa’ lokal, atau boleh jadi mengandung makna tentang “datang dan kembalinya jati diri bangsa Nusantara setelah dirusak/ ditipu / dijajah oleh Dewata Cengkar”.

Kesimpulan dari legenda Ajisaka Purwawisesa dan Dewata Cengkar ini adalah memberitakan tentang kejadian di masa lalu, yaitu:

–   Melihat runtun kejadian sejak datangnya ‘Dewata Cengkar’ ke pulo Jawa hingga ‘Ajisaka’ (Sanjaya) menjadi raja Medang Kamulan (Raja Bumi Mataram ke I) maka dapat diartikan (diduga) bahwa kejadian itu berlangsung pada jaman Kerajaan Ka-Lingga masa pemerintahan Ra-Hyang Sena / Sanna / Bratasenawa putra Ra-Hyang Ta Mandiminyak (Sang Amar / Sang RAMA).

–   "Medang Kamulan" atau pulo Jawa sering diartikan / disetarakan sebagai Bumi Mataram (kuno) yaitu Ibu Kota Kemaharajaan Nusantara. Kerajaan Mataram (I) / Mataram ‘Hindu’ / Mataram Jati / Mataram pra-Islam dibangun pada abad ke VIII Masehi oleh Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya atau sering disebut sebagai “Sang Taraju Jawadwipa” menggantikan kerajaan Ka-Lingga.

–   Aji Saka Purwa Wisesa, adalah simbol “inti ajaran” paling tua di dunia yang menjadi pilar utama Bumi Nusantara, yaitu ajaran Matahari (Sunda) bangsa Galuh yang dibawa oleh Ra-Hyang Sanjaya dari wilayah Rama yang pada saat itu dipimpin oleh Ra-Hyang Ta Mandiminyak Sang Amara / ‘S(e)mar’ / Sang Rama beliau berkedudukan di pusat Ibu Pertiwi (Ka-Ambu-Uyut-an = Kabuyutan) yaitu Pa-Ra-Hyang (wilayah RAMA)

–   Di jaman Mataram Kuno pulo Jawa merupakan gudang makanan atau lumbung padi yang sangat besar (Medang Kamulan). Rakyat hidup tentram dan damai sebelum kedatangan ‘Dewata Cengkar’.

–   Pusaka Ibu Pertiwi (di Majati) sesungguhnya adalah “AJARAN MATAHARI (Sunda)” yang menjadi pilar penjaga Kesuburan dan Kemakmuran (Sembada) yang harus dijaga dan tidak boleh diserahkan kepada siapapun, apalagi kepada “pembohong” (Dora).

–   Pulo Jawa (dan Nusantara) pada awalnya diperintah oleh Maharaja (RATU) yang bijaksana (Juru Masak), diduga sejak jaman Ratu Sima (kerajaan Ka Lingga), namun setelah kedatangan ‘tamu’ dari negeri gersang (Dewata Cengkar) kekuasaan RATU diambil alih (telunjuk terpotong).

–   Ajisaka Purwawisesa dari Pa-Ra-Hyang (Majati) datang membawa kabar kebohongan / penipuan (Dora) tentang ‘tamu’ dari padang pasir itu (Dewata Cengkar) yang sebenarnya gemar memangsa manusia (suka berperang).

–   Keberadaan ‘Dewata Cengkar’ yang masih ‘menetap’ di Tanah Air pada prinsipnya disimbolkan dengan “Buaya” yang hidup di lumpur (Tanah-Air) dan menyamar / berkedok “kesucian” (Putih).

–   Medang Kamulan (representasi dari Nusantara) dapat diselamatkan dari kehancuran jika masyarakatnya ‘kembali’ kepada ajaran para leluhur Negara, kembali mempelajari nilai-nilai luhung yang dianut oleh leluhur Ibu Pertiwi, yaitu ajaran Sunda / agama Negeri Matahari.

–   HA-NA-CA-RA-KA ialah simbol nilai-nilai ajaran leluhur yang bertujuan untuk “mengingatkan” bangsa Nusantara tentang adanya “kebohongan” yang kelak berakibat kehancuran di negeri maha subur (DORA dan SEMBADA).

Berdasarkan kajian tanda pola perlambangan yang termaktub pada legenda Ajisaka Purwawisesa di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kisah tersebut sesungguhnya bukan cerita tanpa makna yang sekedar dongeng hiburan, melainkan dokumentasi penting atas sebuah peristiwa kejadian yang diberitakan secara simbolik dan dikemas dalam bentuk cerita berjudul AJISAKA PURWAWISESA.



Ajisaka Versi Cipaku Darmaraja Sumedang
 

Tanah Sunda (Lemah Sagandu) masih menyatu dalam satu benua. Diceritakan dalam Buku Cipaku Resi Agung menyuruh keturunan Nabi Nuh AS, Purbawisesa, Terahwisesa, dan Ratu Galuh berkontemplasi di Lemah Sagandu selama 40 hari 40 malam, setelah berkontemplasi Resi Agung datang kembali memberi petunjuk untuk ke-3 Putra Nabi Nuh tersebut Purbawisesa (Ajisaka) pergi ke sebelah Timur menurunkan raja-raja di Timur, Terahwisesa (Ajisakti) ke sebelah barat menurunkan raja-raja di sebelah barat dan Ratu Galuh ke sebelah Selatan menurunkan raja-raja di Sebelah Selatan. Mereka pergi ke tujuannya masing-masing dan menurunkan Raja- raja di Lemah Sagandu (Benua Sunda).

Legenda Ajisaka, mengungkap zuriat Nabi Ishaq di Nusantara

Dalam prasasti Kui (840M) disebutkan bahwa di Jawa terdapat banyak pedagang asing dari mancanagara untuk berdagang misal Cempa (Champa), Kmir (Khmer-Kamboja), Reman (Mon), Gola (Bengali), Haryya (Arya) dan Keling.

Untuk kebutuhan administrasi, terdapat para pejabat lokal yang mengurusi para pedagang asing tersebut, misal Juru China yang mengurusi para pedagang dari China dan Juru Barata yang mengurusi para pedagang dari India. Mereka seperti Konsul yang bertanggung jawab atas kaum pedagang asing.

Di dalam catatan sejarah, kita mengenal gelar “Sang Haji (Sangaji)” merupakan gelar dibawah “Sang Ratu”, seperti contoh Haji Sunda pada Suryawarman (536M) dari Taruma, Haji Dharmasetu pada Maharaja Dharanindra (782M) dari Medang. Haji Patapan pada Maharaja Samaratunggadewa (824M) dari Medang. Sumber : History of Java Nusantara
 


Legenda Ajisaka

Dalam legenda tanah Jawa, kita mengenal nama tokoh Ajisaka. Ajisaka sangat mungkin, berasal dari kata Haji Saka, bermakna Perwakilan Negara (Duta) atau Konsul yang bertanggung jawab atas para pedagang asing, yang berasal dari negeri Saka (Sakas).

Lalu dimanakah Negeri Sakas itu?

Di dalam sejarah India, dikenal negara Sakas atau Western Satrap (Sumber : Western Satrap, Wikipedia). Pada tahun 78M Western Satrap (Sakas) mengalahkan Wikramaditya dari Dinasti Wikrama India. Kemenangan pada tahun 78M dijadikan sebagai tahun dasar dari penanggalan (kalender) Saka. Wilayah Western Satrap mencakup Rajastan, Madya Pradesh, Gujarat, dan Maharashtra.
Para raja dari Western Satrap biasanya memakai dua bahasa yaitu Sankrit (Sansekerta) dan Prakit serta dua aksara yaitu Brahmi dan Yunani dalam proses pembuatan prasasti dan mata uang logam kerajaan. Sejak pemerintahan Rudrasimha (160M-197M), pembuatan mata uang logam kerajaan selalu mencantumkan tahun pembuatannya berdasarkan pada Kalender Saka.
Keberadaan Sakas dengan Kalender Saka-nya, nampaknya bersesuaian dengan Legenda Jawa, yang menceritakan Ajisaka (Haji Saka), sebagai pelopor Penanggalan Saka di pulau Jawa.


Dewawarman I, bukan Ajisaka


Di dalam Naskah Wangsakerta, kita mengenal seorang pedagang dari tanah India, yang bernama Dewawarman I. Beliau dikenal sebagai pendiri Kerajaan Salakanagara. Ada sejarawan berpendapat, bahwa Dewawarman I adalah indentik dengan Haji Saka (Ajisaka). Akan tetapi apabila kita selusuri lebih mendalam, sepertinya keduanya adalah dua orang yang berbeda.

Ajisaka (Haji Saka), tidak dikenal sebagai pendiri sebuah Kerajaan, melainkan dikenal membawa pengetahuan penanggalan, bagi penduduk Jawa. Sebaliknya Dewawarman I adalah pendiri Kerajaan Salakanagara, dan tidak ada riwayat yang menceritakan, bahwa beliau pelopor Kalender Saka.
Dewawarman I di-indentifikasikan berasal dari Dinasti Pallawa (Pahlavas), beliau berkebangsaan Indo-Parthian, yang berkemungkinan salah satu leluhurnya adalah Arsaces I (King) of PARTHIA. Dan jika diselusuri silsilahnya akan terus menyambung kepada Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia binti Cyrus II “The Great” of Persia (Zulqarnain). Sumber : The PEDIGREE of Arsaces I (King) of PARTHIA dan Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah
Sementara Ajisaka (Haji Saka), diidentifikasikan berasal dari Sakas (Western Satrap), beliau berkebangsaan Indo-Scythian, dimana susur galurnya besar kemungkinan, menyambung kepada keluarga kerajaan di India Utara (King Moga/Maues). Sumber : Indo-Scythians  dan Maues, Wikipedia
Namun ternyata, kedua Leluhur masyarakat Sunda dan Jawa ini, memiliki satu persamaan, yakni : Dewawarman I (Indo-Parthian) dan Ajisaka (Indo-Scythian), sesungguhnya merupakan Zuriat (Keturunan) dari Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim (Bani Ishaq), yaitu melalui dua anaknya Nabi Yakub (Jacob) dan Al Aish (Esau). Sumber : THE TWO HOUSES OF ISRAEL, Who were the Saxons/Saka/Sacae/Scythians? Sons of IsaacKomunitas Muslim, dari Bani Israil


Tidak ada komentar