Memahami Simbol Dhayani Budha di Candi Borobudur

Banyak yang berpendapat bahwa Borobidur peninggalan Nabi Sulaiman, padahal salah jamannya juga jauh berbeda antara Nabi Sulaiman dengan Wangsa Sailendra, sebagai penerus/pergeseran ke-tata-nagara-an dinasti Sunda (Tarumanagara) - Medang (Galuh).

Sulaiman (bahasa Arab: سليمان; bahasa Ibrani: שְׁלֹמֹה; bahasa Ibrani Standar: Šəlomo; bahasa Ibrani Tiberia : Šəlōmōh, bermakna damai), hidup sekitar 975 – 935 SM merupakan seorang raja Israel, dan anak Raja Daud. Namanya disebutkan sebanyak 27 kali di dalam Al Quran. Sejak kecil ia telah menunjukkan kecerdasan dan ketajaman pikirannya. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 970 SM. Ia wafat di Rahbaam, Baitul Maqdis, Palestina.

Wangsa Sailendra atau Syailendra (Śailendravamśa) adalah nama wangsa atau dinasti raja-raja yang berkuasa di Sriwijaya, pulau Sumatera; dan di Mdaŋ (Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Kuno), Jawa Tengah sejak tahun 752. Sebagian besar raja-rajanya adalah penganut dan pelindung agama Buddha Mahayana. Meskipun peninggalan dan manifestasi wangsa ini kebanyakan terdapat di dataran Kedu, Jawa Tengah, asal usul wangsa ini masih diperdebatkan. Disamping berasal dari Jawa, daerah lain seperti Sumatera atau bahkan India dan Kamboja, sempat diajukan sebagai asal mula wangsa ini.

Majumdar beranggapan bahwa keluarga Śailendra di Nusantara, baik di Śrīwijaya (Sumatera) maupun di Mdaŋ (Jawa) berasal dari Kalingga (India Selatan). Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh Nilakanta Sastri dan Moens. Moens menganggap bahwa keluarga Śailendra berasal dari India yang menetap di Palembang sebelum kedatangan Dapunta Hyang. Pada tahun 683 Masehi, keluarga ini melarikan diri ke Jawa karena terdesak oleh Dapunta Hyang dengan bala tentaranya.  (Baca : https://id.wikipedia.org/wiki/Wangsa_Sailendra)





 Proses Penemuan Candi Borobudur lihat gambar dibahah ini


Postingan ini adalah untuk memenuhi permintaan teman yang ingin tahu apa saja sikap atau postur Buddha sebagaimana yang ada dalam arca Buddha di Candi Borobudur.  Namun dalam proses riset menemukan korelasi dengan konsep Sedulur Papat Limo Pancer dalam

falsafah Jawa. Tentu akan lebih menarik membahas hubungannya dengan Sedulur Papat Limo Pancer. Akan tetapi saya hanya menyinggungnya sekilas saja  dengan titik berat pada penjelasan tentang Panca Dhyani Buddha.


BOROBUDUR SEBAGAI MANDALA
Orang yang awam akan menikmati Candi Borobudur dengan mengagumi keindahan bangunan candi, termasuk mengagumi keindahan di sekitarnya ketika menaiki candi. Banyak foto yang beredar saat ini, yang mengambil sudut pandang patung Buddha dengan latar belakang pemandangan alam yang indah. Namun apabila candi tersebut dilihat dari atas, terlihat ada bentuk mandala. Borobudur adalah bangunan berupa mandala raksasa yang pernah dibangun oleh manusia. Diseluruh dunia, hanya satu mandala sebesar itu dan mandala itu ada di bumi nusantara ini.


APA ITU MANDALA?
Mandala adalah bentuk visual atau simbol dari alam semesta. Dalam tantra, mandala dijadikan sebagai salah satu bagian alat bantu kontemplasi dan meditasi. Bangunan candi pada umumnya adalah untuk pemujaan, namun Borobudur lebih dari itu. Jika hanya sebagai candi untuk pemujaan, maka tidak perlu dibangun dalam bentuk mandala seperti itu. Buat saja kompleks candi-candi pemujaan seperti pada umumnya. Tapi nyatanya borobudur bentuknya memang berupa mandala. 


Mestinya pengunjung/peziarah candi Borobudur di masa lalu bukan sekedar berkunjung di monumen besar, tapi seiringan juga mempraktikkan laku spiritual. Menapaki candi borobudur dengan penuh kesadaran (eling), merenungkan dan melakukan kontemplasi. Puncaknya adalah bermeditasi dengan sangat mendalam. Ya, itu mungkin hanya imajinasi saya, namun penggunaan mandala dalam meditasi memang seperti itu. Imajinasi saya tentang borobudur tentu tidaklah berlebihan, dengan mempertimbangkan fungsi dari mandala itu sendiri. 

Mandala sebagai simbol alam semesta meliputi micro cosmos (jagad kecil) dan macro cosmos (jagad besar). Artinya simbol-simbol yang menunjuk hal-hal luar (jagad besar) itu pada dasarnya adalah simbol tentang diri kita sendiri (jagad kecil). Terlalu panjang membahas makna simbolik borobudur, saya hanya membatasi pada Panca Dhyani Buddha saja.

Jika kita menaiki bagian atas candi, maka akan banyak patung Buddha, dan posisi arca patung tersebut memiliki pola yang seragam. Dalam seni Buddhis, umumnya ada lima bentuk arca. Lima macam bentuk arca Buddha itu adalah perwujudan dari Panca Dhyani Buddha.
 
Mandala yang menampilkan Panca Dhyani Buddha
Bentuk Mandala Yang Lain
Bentuk Mandala Yang Lain
Jika kita melacak perkembangan agama Buddha di Tibet. Sudah umum bentuk mandala yang menampilkan Panca Dhyani Buddha. Kadang secara simbolik adalah lima elemen/unsur. Ada elemen ruang, air, api, tanah dan angin. Lima elemen ini juga disimbolkan dalam panca dhyani Buddha. 

Sedikit menyinggung tentang agama awal. Dalam banyak penelitian bahwa agama awal berupa agama tentang keseimbangan alam. Orang umum menyebutnya animisme dan dinamisme. Dalam perkembangannya, paham keseimbangan kekuatan alam ini maknanya sungguh mendalam. Memuja kekuatan alam seperti gunung berapi, itu mewakili elemen api. Memuja kekuatan samudera, itu kekuatan  elemen air. Kekuatan yang dipuja itu sering disimbolkan dalam bentuk sosok dewa atau dewi. Tradisi seperti ini masih ada hingga sekarang di nusantara ini. Sebagai contoh. Posisi atau letak keraton Yogyakarta. Sebelah utara ada gunung merapi, itu elemen api, disimbolkan dengan Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan Kyahi Sapujagad. Di seberangnya adalah laut selatan, yani elemen air, disimbolkan dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sebelah Timur adalah gunung lawu, termasuk elemen tanah, disimbolkan Kanjeng Sunan Lawu. Dan sebelah Barat adalah Kayangan Dlepih, yang adalah elemen angin, disimbolkan Sang Hyang Pramoni. Keraton Yogyakarta di tengah, itu adalah elemen ruang. 

Secara makro, keseimbangan alam di luar perlu diatur, dibuat harmoni, atau dijaga keseimbangannya. Namun  pada akhirnya, keseimbangan dalam diri ini yang paling penting untuk dijaga, tidak lain adalah pikiran kita sendiri. Segala hal yang berhubungan dengan diri sendiri, ini adalah mikro. Sedulur papat limo pancer. Pancer adalah diri kita, pikiran kita, lebih spesifik adalah kesadaran kita sendiri. Nanti akan saya singgung lagi tentang hal ini.

Artinya, paham kesimbangan alam yang katanya “kuno”, digolongkan animisme dinamisme, memiliki makna simbolik tertentu, makna yang tidak sesederhana dibayangkan. Ketika masuknya Hindu dan Buddha hal itu bukan hilang tapi diserap dan menyatu. Bangunan punden berundak menjadi mandala. Dan keseimbangan lima elemen/unsur menjadi bagian dari metode kontemplasi dan dirancang dalam bentuk mandala ini.


HUBUNGANNYA DENGAN PANCA DHYANI BUDDHA
Kembali pada hubungannya dengan Panca Dhyani Buddha. Panca Dhyani Buddha juga disebut sebagai keluarga Buddha (Buddha family). Secara tradisional ditampilkan sebagai mandala dari lima Buddha. Mandala membantu meditator dalam memahami bagaimana berbagai aspek keberadaan dalam suatu keseluruhan yang terintegrasi. Tujuan meditasi adalah meningkatkan kualitas diri. Dalam Buddhisme itu mengarah pada pencerahan, menjadi Buddha.  Buddha berasal dari akar kata sansekerta “Budh” artinya mengetahui. Diserap dalam bahasa Jawa menjadi Budi. Dalam perkembangannya menjadi istilah budi pekerti.  Budi pekerti ini tidak lain adalah pemahaman yang membuat ucapan dan perilaku menjadi baik atau luhur.

Mandala menampilkan aspek pencerahan, namun juga menampilkan hal-hal neurotik. Mengapa hal neurotik ditampilkan? Itu karena orang awam seperti kita adalah neurotik, menderita, dan penderitaan itu juga semacam energi juga. Dalam tantra, pencerahan juga energi. Jadi tujuan dari tantra adalah mentransformasi energi yang negatif menjadi positif.  Istilah yang sering digunakan adalah mentransformasi sifat-sifat buruk kita menjadi kebijaksanaan (wisdom). Panca Dhyani Buddha adalah lima aspek atau sifat dari kebijaksanaan ini. Indahnya pemahaman ini diserap dalam bahasa Indonesia. Tidak ada orang bodoh, orang jahat, bahkan tidak bermoral. Yang ada adalah orang yang kurang ajar. Kurang mendapat pemahaman, karena itu perlu diberitahu dan diajari tentang budi pekerti.  Dalam konteks tantra, sifat-sifat buruk itu ditransformasi ke arah yang baik, dengan pengertian, menumbuhkan aspek pencerahan (bodhi).



SEDIKIT CATATAN SEJARAH
Melacak praktik penggunaan mandala di nusantara sama saja dengan melacak tantra Buddhis atau vajrayana. Nampaknya silsilah tantra Buddhis di nusantara sudah terputus. Beberapa sumber yang saya teliti ini mengambil pada sejarah perkembangan tantra di Tibet.

Mengapa mengambil dari Tibet? Karena di India sendiri, penggunaan mandala Buddhis sekitar abad ke-11 juga lenyap namun menyebar keluar dari benua asalnya. Ditandai dengan hancurnya Nalanda, pusat studi Buddha di India yang musnah tahun 1037 karena kondisi perang pada zaman itu. Panca Dhyani Buddha adalah subyek utama dalam mandala vajrayana.

Silsilah lain adalah di Cina. Hui-Kuo yang hidup tahun 746-805, seorang bhiksu dinasti Tang yang mengambil Tantra Buddhis dari India. Guru Hui-Kuo adalah Amoghavajra, bhiksu tantra dari India . Mungkin ada yang tahu Hsuan Tsang (Tong Sam Cong) yang ke India. Hsuan-Tsang hidup tahun 602-664, lebih awal dari Hui-Kuo. Hsan Tsang  ke India untuk belajar dan mengambil kitab suci. Waktu itu tan.tra belum berkembang. Hsuan Tsang banyak membawa ajaran filsafat mahayana awal terutama filsafat yogachara dari India ke Cina. Pekembangan tantra Buddhis memiliki pijakan filsafat Buddhisme Mahayana.

Silsilah lain yang ada adalah penyebaran Vajrayana di Jepang melalui Cina.  Kūkai atau disebut juga  Kōbō-Daishi hidu p tahun 774–835 adalah bhiksu Jepang pendiri aliran Shingon di Jepang. Tahun 804 Kūkai mendapat sponsor dari pemerintah untuk belajar di China . Kukai adalah salah satu  murid Hui-Kuo.

Vajrayana berkembang di Tibet dan Jepang, namun di Jepang hanya minor karena itu sangat terbatas sumber literaturnya. Di Cina sendiri lebih dominan berkembang Mahayana. Jadi, saya cenderung memakai sumber dari sejarah Tibet, karena literaturnya lebih mudah didapatkan.

Menurut sejarah, Borobudur dibangun sekitar tahun 772, berarti sezaman dengan Hui-Ko dan Kukai. Hanya saja, sekali lagi, literatur tantra Buddhis di nusantara sangat terbatas, banyak yang sudah hilang


 PANCA DHYANI BUDDHA

Panca Dhyani Buddha bukan Buddha historis yaitu pendiri agama Buddha bernama Sidharta Gotama. Panca Dhyani Buddha adalah simbol Kebuddhaaan. Bukan Buddha sosok orang, dewa, atau apapun yang personal, tapi lebih mengacu pada potensi Kebuddhaan dalam diri. Panca Dhyani Buddha adalah pengembangan filsafat dari kata dasar Buddha, yaitu pencerahan. Dengan kata lain, benih Kebuddhaan adalah benih pencerahan atau potensi mencapai kebahagiaan tertinggi, dalam hal ini,  disimbolkan dalam Panca Dhyani Buddha. Dibuat dalam bentuk mandala agar memuahkan saja untuk membantu kontemplasi dan meditasi.

Panca Dhyani Buddha terdiri dari Vairochana, Akshobya, Ratnasambhava, Amitabha dan Amoghasiddhi.  Variochana dicirikan dengan Dharmachakra mudra, sosok Buddha dengan sikap tangan sedang memutar roda dharma. Sikap ini adalah sikap sedang mengajar Dharma. Vairochana digolongkan sebagai elemen ruang dan mewakili Wisdom of Dharmadhatu.

Akshobya memiliki sikap Bhumisparsa mudra, sikap dengan tangan kanan menyentuh bumi. Konon inilah sikap Buddha ketika mencapai pencerahan sempurna. Akshobya termasuk elemen air, mewakili Mirror-like wisdom.

Ratnasambhava memiliki sikap Varamudra, sikap tangan memberi anugerah atau berkah. Termasuk elemen tanah / bumi, mewakili wisdom of equality.

Amitabha memiliki sikap dhyanamudra. Ini adalah sikap meditasi. Amitabha mewakili wisdom of individual discrimination, dan termasuk elemen api. Maksudnya bukan mendiskriminasi secara negatif, tapi membedakan tapi tetap memiliki dasar kebijaksanaan. Nanti akan saya jelaskan lagi.

Amoghasiddhi memiliki sikap Abhaya mudra, sikap yang mengajarkan atau memberitahu agar jangan takut. Amoghasiddhi digolongkan dalam elemen angin/udara dan mewakili All-accomplishing wisdom.

Secara sederhana untuk memahami Panca Dhyani Buddha bisa lihat dalam tabel berikut ini :

Tabel Panca Dhyani Buddha
LIMA KEBIJAKSANAAN
Lima Buddha itu hanya simbol untuk menunjukkan adanya sifat luhur dalam diri kita sendiri.  Mirip dengan ungkapan “Tuhan beserta kita”, “Tuhan di dalam diri”, “Suara Tuhan dalam diri”, dll. Hanya saja sifat Ketuhanan/Sifat luhur itu dijabarkan lebih lanjut dalam konsep Panca Dhyani Buddha ini, karena  apabila dijabarkan itu akan memudahkan untuk kontemplasi dan meditasi. Seorang praktisi akan waspada melihat keadaan dirinya sendiri. Maksudnya: kecenderungan yang buruk bisa diatasi, ditransformasi ke arah yang baik, menjadi kebijaksanaan. Dalam olah spiritual yang sesungguhnya, ungkapan “Ada Tuhan dalam diri” atau “Benih Buddha dalam diri”, itu bukan untuk sandaran psikologis. Sandaran psikologis maksudnya adalah merasa dilindungi oleh Tuhan, Buddha, Dewa, atau sosok ilahi lainnya. Yang sebenarnya melindungi diri kita adalah sifat baik diri kita sendiri, sifat baik yang berasal dari energi ilahi. Jika dalam filsafat Mahayana itu adalah benih kebuddhaan (Buddha Nature). Dalam tradisi agama lain, adalah Tuhan, Brahman, dll. Untuk itu perlulah latihan spiritual, melalui lelaku, kontemplasi dan meditasi.  Latihan itu tujuannya adalah menumbuhkan sifat luhur tersebut yang merupakan kebahagiaan dan kedamaian tertinggi itu sendiri.

Berikut penjelasan singkat tentang sifat luhur  atau kebijaksanaan (wisdom) pada masing-masing Panca Dhyani Buddha :

 
1. Wisdom of Dharmadhatu
Kebijaksaan ini mengurangi dan melenyapkan ketidaktahuan. Melenyapkan disini dengan cara tidak menolak segala sesuatu. Tapi menerima karena semuanya nampak murni (pure), kosong dari keberadaannya.  Kebijaksanan ini bersifat membuka diri atau kelapangan yang tanpa pusat dan pinggiran, yang luas dan abadi. Tanpa pusat disini maksudnya tanpa Ego. Pinggiran adalah keterbatasan. Segala sesuatu yang didasari Ego pasti akan memiliki pusat (pusat kendali) dan selalu memiliki jangkauan terbatas.

Kebijaksanaan ini digolongkan dalam elemen ruang, karena sifat kelapangan itu seperti langit. Seperti angkasa, yang berasal dari kata “akasha”.

Dharmadatu dalam bahasa sansekerta berarti realitas Dharma, yang mengacu pada kolektif satu rasa (ekarasa), dalam hal ini adalah sifat murni, kosong.

Secara praktis seperti fenomena bersih dan kotor pada suatu tempat. Bersih itu bukanlah lawan dari kotor. Bersih itu hanya memindahkan kekotoran di suatu tempat lain. Orang yang mengerti akan melihat lebih mendasar, bukan tentang substansi bersih-kotor lagi, tapi lebih mendasar. Bahagia, dan damai dengan merasakan hal yang mendasar yaitu elemen ruang.

Kata kunci kebijaksanaan ini adalah kelapangan (lapang maksudnya luas).


2. Mirror-like Wisdom

Kebijaksanaan ini memurnikan (mempurifikasi) agresi, kebencian, dan kemarahan. Mirror-like, seperti cermin, melihat dengan jelas, melihat sebagai mana adanya. Ego suka sekali mengasumsikan realita sesuai keinginannya. Hal yang menarik diabadikan dalam konsep. Lalu konsep ini dijadikan acuan. Lalu Ego membuatnya menjadi milik dan konsekuensinya akan memiliki wilayah kekuasaaan tertentu. Ketika seseorang memiliki rencana akan sesuatu dan ternyata tidak berjalan sesuai rencana, maka orang itu menjadi marah dan semakin agresif.  Elemen Air yang stabil akan menerima keadaan, merefleksikan keadaan apa adanya. Damai bukan terletak dalam memiliki tapi dalam proses menjadi (being). 

Kata kunci kebijaksanaan ini adalah kejelasan.


3. Wisdom of  Equality

Kebijaksanaan ini memurnikan kebanggaan. Melihat segalanya sama, dan tidak berbeda. Kebijaksanaan ini muncul dalam ketenangan, cinta kasih dan welas kasih. Sifatnya adalah tidak membedakan, karena itu disebut “equality”. Menerima baik dan buruk dari segala sesuatu. Seperti elemen tanah. Bumi (bhumi) menyerap segala sesuatu dan tetap solid, stabil dan sangat mengakar (grounded).

Kata kunci kebijaksanaan ini adalah kesempurnaan (sempurna maksudnya melihat semuanya tiada beda).


4. Wisdom of Individual Discrimination
Kebijaksanaan ini memurnikan nafsu dan kemelekatan. Secara bijaksana tahu akan apa yang dilihat, dan mampu melihat obyek secara detail. Lalu menemukan ada rasa tak ternilai dari setiap orang lain, tidak peduli seberapa jelek atau tidak berharga dari sudut pandang konvensional. Orang dengan energi kebijaksanaan ini akan nampak hangat dan penuh cinta, karena itu dikategorikan sbg elemen api.

Kata kunci kebijaksanaan ini adalah vitalitas.


5. All Accomplishing Wisdom

Kebijaksanaan ini memurnikan irihati. Kebijaksanaan ini melihat pemenuhan karma. Dalam melakukan sesuatu tidak ada kebutuhan untuk dorongan Ego. Ada orang lain yang lebih “enak”, tapi tidak perlu iri hati karena berbuah sesuai dengan karma masing-masing. Dalam berusaha apapun ada batasnya dan ada saatnya karma berbuah.  Dalam praktiknya, sering dilatih dengan dedikasi berbuat baik atau melakukan hal-hal demi manfaat mahkluk lain. Sering disebut juga kebijaksanaan dalam tindakan, karena itu digolongkan dalam elemen angin.  Seperti angin yang bisa masuk ke mana saja, namun tetap ada kebijaksanaan dalam setiap langkah.

Kata kunci kebijaksanaan ini adalah aktivitas  (dari kata dasar “aktif” yang menekankan pada tindakan yang didasari kebijaksanaan).



ASPEK KONTEMPLATIF DARI MASING-MASING KATA KUNCI

Bentuk ringkasan sederhana bisa ditampilkan dalam tabel berikut :
Tabel Panca Dhyani Buddha Ringkasan

1. Kelapangan sebagai Elemen Ruang
Kelapangan mengatasi ketidaktahuan. Ketika orang mewujudkan aspek kebijaksanaan ini,  energi kebijaksanan membuat seseorang menerima, menampung, santai dan puas dengan hanya menjadi (being).  Namun sebagai orang yang masih belajar perlu mewaspadai adanya kemungkinan sifat buruk yang muncul setelahnya. Jika kecenderungan diri menjadi solid, diam dan tidak bergerak, atau terlalu mengabaikan keadaan, harus tahu bahwa itu belum tentu kebijaksanaan. Jika sudah mulai membosankan, malas, keras kepala dan tidak sensitif, maka perlu untuk mulai mentransformasi ke kebijaksanaan yang lainnya. 


 
2. Kejelasan  sebagai Elemen Air
Kejelasan mengatasi kemarahan. Mereka yang memiliki kejelasan dengan kecemerlangan intelektual, tajam dan tepat. Mereka mempertahankan perspektif dan penuh integritas. Namun jika sudah menjadi pembenaran Ego, maka “Kejelasan” itu bisa menjadi terlalu analitis, kritis, dogmatis, otoriter dan menuntut kesempurnaan.

 

3. Kesempurnaan  sebagai Elemen Tanah/Bumi
Kesempurnaan dengan melihat semuanya tiada beda mengatasi kebanggaan. Namun dengan menyerap segalanya kadang justru bisa menjadi masalah. Tanpa disadari menyerap banyak hal bisa menjadi kesombongan, karena merasa memiliki banyak hal.  



4. Vitalitas sebagai  Elemen Api

Vitalitas yang didasari pengamatan yang tajam dan detail membuat pemahaman bahwa ada hal yang tidak ternilai dalam setiap orang. Muncullah sifat yang hangat dan penuh cinta. Orang seperti ini akan menawan dan menjadi daya tarik orang lain. Bagi orang yang masih memiliki kekotoran bathin, sering menyebabkan keinginan obsesif untuk menarik dan memahami situasi yang paling menyenangkan. Integritas menjadi menurun seiringan dengan berusaha dikenal baik dan menarik. Akibatnya alih-alih pengembangan spiritual, yang terjadi cenderung untuk mencari konfirmasi terus menerus pada pandangan/respon orang lain.  Berbuat kebaikan hanya untuk kebaikan itu saja, tanpa pamrih.


5. Aktivitas sebagai Elemen Angin
Kebijaksanaan dalam tindakan/aktivitas memancarkan energi yang cepat dan energik seperti angin. Aspirasinya adalah untuk kepentingan manfaat bagi orang lain. Kebijaksanaan ini adalah pemeduhan kebaikan hati dalam hasil tindakan. Ego berusaha untuk mengubah upaya pemenuhan itu menjadi wilayah personal.  Upaya pemenuhan jiga tidak berhati-hati akan memanifestasikan sisi neurotik, seperti haus kekuasaan, kompetisi, manipulasi, mendominasi, dan lain-lain. Sering diwujudkan dalam bentuk takut gagal. Dalam falsafah Jawa, aspek seperti ini nampak dalam ungkapan sepi ing pamrih rame ing gawe. Konsep tapa ngrame, artinya spiritualitas yang tumbuh ketika telibat dalam aktivitas, kegiatan bermasyrakat.

Aspek kontemplatif pada penjelasan di atas menampilkan sisi neurotik agar memudahkan mengenalinya dan mentransformasikannya lagi menjadi kebijaksanaan. Penggunaan mandala umumnya juga melibatkan mantra untuk mengkultivasi energi dan membantu mempurifikasi sifat negatif menjadi kebijaksanaan. Pada tahap lanjut barulah masuk pada meditasi tahap lanjut.



SEKILAS SEDULUR PAPAT LIMO PANCER


Dalam konsep Sedulur Papat Limo Pancer, yaitu :
“Hitam berada di utara, merah di selatan, kuning bertempat di barat dan putih berada di timur. 

1. Kakang kawah, saudara tua kawah, dia keluar dari gua garba ibu sebelum kamu, tempatnya di timur warnanya putih. 
2. Adi ari-ari, adik ari-ari, dia dikeluarkan dari gua garba ibu sesudah kamu, tempatnya di barat warnanya kuning.
3. Getih, darah yang keluar dari gua garba ibu sewaktu melahirkan, tempatnya di selatan warnanya merah. 
4. Puser, pusar yang dipotong sesudah kelahiranmu, tempatnya di utara warnanya hitam”.

Penggunaan sajen mirip dengan mandala. Penggunaan mandala disebut sebagai mandala offering. Artinya persembahan mandala. Sajen, sesaji, kata kerjanya adalah menyajikan atau mempersembahkan.

 

0 komentar:

Posting Komentar