Manuskrip Islam Dalam Genggaman Barat

Ulama generasi salaf banyak yang produktif menulis kitab. Imam Suyuthi misalnya, menulis tak kurang 600 kitab. Demikian juga Imam Nawawi, ada ratusan kitab yang lahir dari penanya.

Jangan dibayangkan kitab-kitab yang mereka tulis itu seperti buku sekarang. Kitab-kitab itu hanya berupa tulisan tangan. Itu pun, untuk membacanya butuh keahlian khusus. Jadi, tak semua orang mampu membacanya. Itulah yang disebut manuskrip atau naskah kuno.

Dalam bahasa Arab disebut mahthuthat, yakni karya seorang ulama yang masih berupa tulisan tangan. Atau perkataan ulama yang di-imla’-kan (didiktekan) kepada muridnya, atau para sahabatnya.

Memang, mayoritas manuskrip (mahthutha) ditulis oleh penulisnya sendiri. Contohnya kitab Al Majmu’ah Al Fatawa, ditulis oleh Ibnu Taimiyah. Tapi ada juga yang ditulis oleh para murid dan sahabatnya, seperti kitab Al Umm. Kitab ini sejatinya bukan tulisan Imam Syafi’i, akan tetapi hasil dikte Imam Syafi’i kepada beberapa muridnya. Mereka adalah Al Muzani, Rabi’ bin Sulaiman Al Buwaiti.

Manuskrip memiliki kedudukan amat penting. Direktur Urusan Mahthuthat dalam Kementrian Urusan Mahthutat dan Pengetahuan Oman, Hamud bin Abdullah menyebutkan, manuskrip adalah bukti atas eksistensi pengetahuan sebuah umat dan dalil atas sebuah peradaban. Tentu, jika manuskrip umat Islam tidak terjaga dengan baik, apalagi musnah atau pindah ke tangan pihak lain, bagaimana hendak menyatakan bahwa umat ini pernah memiliki peradaban cemerlang?

Tidak hanya itu, pengetahuan dan ilmu umat ini juga tersimpan di dalamnya. “ Ilmu itu meliputi tafsir, Hadits, fikih, sejarah Islam, dan bahasa. Bahkan umat ini tidak akan benar-benar menjadi umat tanpa “kekayaan itu”,” demikian menurut Syaikh Abdul Aziz Rajhi, Ketua Divisi Kajian Manuskrip di Universitas Umar bin Abdul Aziz Saudi. Bahkan ia berpendapat, menjaga manuskrip adalah fardhu kifayah. Jika tidak ada yang melakukan, maka semua umat Islam berdosa.

Menurut Abdul Aziz, buku-buku (Islam) yang sudah dicetak saat ini, amat sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan jumlah manuskrip yang tersimpan di perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di pelbagai negara.

Doktor Hisam ‘Afanah dari Universitas Al Quds telah mendata jumlah manuskrip yang ia lakukan hingga tahun 1948. Hasilnya, ada 262 juta jilid manuskrip yang masih menumpuk di pelbagai perpustakaan. Belakangan, tersiar kabar bahwa jumlah sesungguhnya mencapai ratusan juta jilid.

Kadang, buku-buku yang telah dicetak pun terdapat banyak kesalahan, hingga perlu merujuk manuskrip untuk mengoreksinya. Kasus ini sering terjadi, dimana buku-buku hasil cetak beredar luas tanpa tahqiq atau si muhaqiq (orang yang men-tahqiq) tidak memiliki kemampuan cukup. Hasilnya, buku tersebut beda dengan manuskrip aslinya.

Kasus seperti ini pernah menimpa kitab Siyar A’alam An Nubala, karya Imam Dzahabi, terbitan Dar al Ma’arif Mesir tahun 1953. Menurut Syeikh Shu’aib al Arna’uth, di dalam kitab ini terdapat lebih dari seratus kesalahan.

Hal yang sama juga terjadi pada buku Al Adzkar karya Imam Nawawi yang diterbitkan Dar Huda, Riyadh, tahun 1984. Syaik Abdul Qadir Al ‘Arnau’uth, muhaqiq kitab tersebut menjumpai kesalahan fatal setelah kitab itu beredar. Ada perubahan judul dan hilangnya beberapa teks. Hingga akhirnya buku tersebut ditarik dari pasar.

Juga kitab Dhafar Al Amani, karya Imam Laknawi yang diterbitkan oleh Dar Al Buhuts Emirat, tahun 1995. Menurut Syeikh Abdul Fatah Abu Ghuddah, di dalam kitab ini ditemukan lebih dari 678 kesalahan.

Walhasil, hanya manuskriplah yang bisa dijadikan bukti ada tidaknya kesalahan dalam buku yang telah dicetak. Manuskrip pula yang menjadi bukti betapa tingginya peradaban Islam masa lampau. Ia ibarat saksi bisu dari kejayaan Islam.

Sebagian kecil umat Islam sadar akan hal itu, sehingga “gerakan” tahqiq manuskrip digalakkan. Tahqiq sendiri adalah sebuah upaya untuk mengkaji sebuah manuskrip, hingga manuskrip tersebut dapat disalin dengan tulisan yang lebih mudah dibaca dan dipahami. Dengan begitu isi naskah tersebut siap untuk dicetak dalam jumlah yang lebih banyak.

Gerakan Mentahqiq
Kini, mayoritas universitas di Timur Tengah merekomendasikan kepada para mahaasiswa pasca sarjana untuk men-tahqiq manuskrip para ulama. Tugas itu dinilai sama dengan penulisan sebuah tesis atau disertasi. Sayangnya, di Indonesia tugas seperti ini belum populer.

Dengan adanya gerakan tahqiq, maka pengetahuan seputar tahqiq dan manuskrip diperlukan. Para ulama berhasil membukukan pengetahuan yang berhubungan dengan tahqiq dan manuskrip, yang biasa disebut ilmu manuskrip. Contohnya Nahwu Ilmi al Mahthutat al Arabi, milik Prof. Abdu as Satar al Khaluji, atau Al Kitab al Arabi al Mahthut wa Ilmu al Mahthuthat.

Bahkan tahun 2003, Ma’had Mahthutat Al Arabiyah (Institut Manuskrip Arab) di Kairo, telah membuka studi manuskrip, yang ditempuh selama dua tahun. Ma’had At Tarikh Al Arabi wa At Turats Al Ilmi (Institut Sejarah dan Peninggalan Keilmuan) di Iraq pun membuka jurusan yang sama, untuk tingkat magister dan doktoral. Sedangkan di Saudi ada Markaz Dirasat Al Islamiyah wa Al Mahthuthat (Pusat Studi Islam dan Manuskrip), yang juga membuka studi yang berkonsentrasi kepada kajian manuskrip.

Setelah itu mulai bermunculan institusi dan organisasi yang memiliki perhatian khusus terhadap penjagaan dan kelestarian manuskrip, seperti Dar Buhuts wa Ihya’ Turats Emirat. Lembaga ini siap mencetak hasil tahqiq, meng-copy manuskrip yang ada di negara-nagara Barat, menerbitkan jurnal dan katalog manuskrip. Juga menjaga dan memperbaiki manuskrip dari kerusakan, mengumpulkan manuskrip yang bertebaran di berbagai pesantren klasik dan masjid yang tidak terjaga, atau membeli manuskrip yang telah menjadi koleksi pribadi, serta mengadakan seminar seputar masalah manuskrip.

Bahkan saat ini sudah banyak situs-situs internet yang menyediakan copy manuskrip, dengan disertai data penulis, jumlah halaman, jenis, lebar, dan berat kertas. Tak lupa mencantumkan perpustakaan tempat manuskrip itu tersimpan.

Walau begitu, sampai saat ini umat Islam yang bergelut di bidang ini masih terbatas jumlahnya, apalagi di Indonesia. Hal ini dikarenakan beberapa hal, antara lain untuk melakukan tahqiq, seseorang harus menguasai disiplin ilmu tema buku yang hendak menjadi obyek. Juga mesti memahami bahasa Arab dan kaidahnya, karena manuskrip adalah tulisan tangan yang ditulis tanpa harakat, dan terkadang banyak coretan, serta urutan catatan tidak teratur. Bahkan, ada tulisan yang tidak jelas dikarenakan umur manuskrip sudah amat lama.

Untuk memahami manuskrip, perlu merujuk kitab-kitab lain, bahkan manuskrip lain yang memiliki hubungan dengan pembahasan dalam manuskrip tersebut. Katelitian dan kesabaran juga mutlak diperlukan, karena untuk memahami satu halaman teks bisa memerlukan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Apalagi pekerjaan seperti ini amat tidak “menjanjikan” jika dihitung secara materi.Di antara ratusan kitab yang ditulis Imam Nawawi adalah al Adzkar. Kitab yang berisi kumpulan doa ini masih menjadi rujukan umat hingga sekarang. Tapi jangan kaget, kalau kitab ini aslinya justru tersimpan di Dublin Finlandia, sebuah negara sekuler. Tepatnya di perpustakaan Alfred Chester Beatty.

Demikian juga kitab Fawa’id fi Naqd al Asanid, karya Hafidz as Shuri. Kitab ini aslinya tersimpan di Perpustakaan Museum Inggris di London. Bukan perpustakaan di sebuah negeri Islam.

Begitu pula Majmu’ Al Fatawa, karya Ibnu Taimiyah yang diterbitkan di Mesir pada tahun 2005, merujuk manuskrip yang berasal dari Perpustakaan Nasional Berlin di Jerman. Tidak hanya itu, masih ada ribuan kitab karya para ulama lainnya yang tersimpan di negeri Barat. Memang aneh, tapi ini nyata. Bagaimana itu bisa terjadi?

Bermula dari penjajahan negara-negara Barat pada negeri Muslim. Saat itulah, ratusan ribu manuskrip Islam diboyong ke Barat. Koran Sarq Al Ausath (14/3/2004) menyebutkan, ada 15.000 manuskrip Arab yang berada di perpustakaan museum Inggris. Prof. Dr. Muhammad Isa as Shalihiyah menyatakan, “Lebih dari 30 dari 72 ruangan yang berada di museum Inggris berisi peninggalan Mesir yang dicuri. Begitu juga di Prancis, walau tidak sebanyak itu.” Pernyataan Muhammad itu tertuang di dalam bukunya, Taghrib Turats al Arabi Baina ad Diblumasiyah wa at Tijarah (Pembaratan Karya Klasik Arab, antara Diplomasi dan Perdagangan) .

Ia juga mangatakan, museum Inggris didirikan setelah armada Inggris dan sejumlah pasukan perang negara itu memboyong manuskrip dan benda-benda bersejarah. Bahkan mereka tidak segan-segan memerangi rakyat, untuk memperolehnya.

Harian Al Wathan (4/4/2005), juga melansir tentang manuskrip-manuskrip Yaman yang diselundupkan keluar, terjadi antara abad 19 hingga 20. Menurut data resmi, ada sekitar 10 ribu manuskrip Yaman berada di Perpustakaan Miroziyana Italia, dan tiga ribu manuskrip berada di Perpustakaan Kongres Amerika, serta dua ribu manuskrip di perpustakaan museum Inggris.

Abdul Lathif Zaki Abu Hashim, Direktur Urusan Turats di Kementerian Wakaf Palestina menyebutkan, perpustakaan nasional Paris juga penuh dengan manuskrip hasil curian, berasal dari Mesir, Syiria dan Libanon. Sejumlah perpustakaan di Spanyol juga dijejali dengan manuskrip dari Andalusia. Nampaknya, Barat paham akan pentingnya benda-benda itu bagi umat Islam.

Memang tidak semua manuskrip Islam yang tersimpan di Barat itu hasil curian atau transaksi gelap lainnya. Ada pula yang lewat jalan terang, jual beli misalnya. Dan transaksi jual beli itu masih berlangsung hingga sekarang. Simaklah sebuah iklan di internet, “Dijual, sebuah manuskrip dengan sampul kulit, ukuran sedang, dari Andalusia, tahun 581 H, Syama’il Muhamadiyah, karya Tirmidzi, harga 25000 dolar Amerika, negara Maroko.”

Hancurnya Manuskrip di Iraq
Ini khusus tentang kasus pencurian manuskrip di Iraq. Dr. Ushamah Naqsabandi menulis di majalah Turatsiyat (Juli, 2006) tentang “serial” penyelundupan manuskrip ke luar dari negeri seribu satu malam itu. Ulah kriminal itu telah berjalan sejak abad 17. Kasus yang paling heboh, adalah hilangnya 1.200 manuskrip dari Iraq. Belakangan diketahui, manuskrip itu berada di perpustakaan museum Inggris. Perpindahan itu ternyata atas ulah tangan seorang pelancong Inggris bernama Wilson Bettj. Pada tahun 80-an, pemerintah Iraq telah berusaha meminta kembali manuskrip-manuskrip itu, walau akhirnya gagal.

Hal yang sama dilakukan oleh Fr Marteen dari Swedia pada akhir abad 19. Manuskrip-manuskrip Iraq dibawanya hingga ke Boston, Amerika. Setelah itu, ia mulai menikmati hasil curiannya. Kini, ia berprofesi sebagai penjual manuskrip dan benda-benda bersejarah di Eropa pada awal abad 20.

Ushamah, yang menjadi Direktur Dar Mahtuthat Iraqiyah (Wisma Manuskrip Islam) menyebutkan, sejak Amerika mengancam hendak menyerang Iraq pada tahun 1991, kasus pencurian manuskrip makin parah. Sekitar 364 manuskrip hilang, termasuk beberapa manuskrip langka, seperti Sihr al Balaghah dan Sir Al Bar’ah karya Imam Tsa’labi, yang ditulis pada 482 H. Tidak hanya itu, manuskrip-manuskrip yang berada di perpustakaan Fakultas Adab Universitas Baghdad juga banyak yang raib.

Ketika Amerika menduduki Iraq, kelestarian manuskrip semakin terancam. Bukan hanya pencuri yang menginginkan, tentara Amerika sendiri mengincarnya. Ushamah menuturkan, tentara negeri Paman Sam itu pernah berupaya menjebol pintu gudang penyimpaman manuskrip. Tapi gagal. Mereka kemudian mencoba membakar pintu. Beruntung para penduduk sekitar mencegahnya, hingga mereka ngacir pergi.

Selesai? Belum. Mereka kembali lagi dengan dalih bahwa tempat itu adalah gudang penyimpanan bom. Ushamah akhirnya membuka tempat itu, dengan disaksikan para wartawan internasional, untuk membuktikan bahwa bangunan itu adalah tempat penyimpanan manuskrip. Tapi keesokan harinya para serdadu itu kembali lagi. Mereka hendak mengangkut manuskrip-manuskrip yang berada di 70 peti, untuk di bawa ke kamp militer mereka. Masyarakat tidak tinggal diam, mereka menghalangi dan mengepung pemimpin tentara itu, hingga mereka pergi dengan tangan hampa.

Tak hanya manuskrip yang dijarah, pasukan Amerika dan Inggris juga ikut mencuri benda-benda bersejarah di museum nasional Iraq, serta membakar beberapa perpustakaan yang berisi manuskrip. Para saksi mata yang enggan disebut namanya (karena alasan kemanan) mengatakan, pasukan Amerika dan Inggris dengan membawa beberapa tank, mendatangi musium nasional Iraq. Mereka menjarah benda-benda bersejarah. Setelah itu, para penjarah dari luar ikut beraksi disaksikan tentara Amerika dan Inggris. Akibatnya, sekitar 17 ribu benda berharga yang menjadi saksi sejarah dan peradaban Iraq raib dari museum itu. Begitu juga nasib perputakaan per-waqafan Baghdad yang memiliki menuskrip langka, juga musnah.

Seakan kurang sempurna bagi Amerika, jika kekayaan intelektual umat Islam di Iraq belum musnah total. Di samping terjadi penjarahan terhadap Museum Nasional, Al Jazeera (17/3/2004) menyebutkan, bahwa Dar al Kutub wa al Watsaiq, perpustakaan yang juga penuh dengan manuskrip ikut menjadi sasaran penghancuran dan penjarahan. Di tempat yang sudah hancur itu, dulu tersimpan dokumen sejarah Iraq sejak masa ‘Utsmani, penjajahan Inggris, karajaan, hingga Iraq menjadi negara republik. Total, jumlah dokumen bersejarah yang tersimpan di tempat itu sekitar 17 juta.

Sebenarnya Koichiro Matsura, kepala UNESCO, pernah mencoba menghentikan aktivitas pemusnahan manuskrip dan dokumen sejarah di Iraq. Ia mengirim surat kepada pemerintah Inggris dan Amerika pada tahun 2003, agar pasukan mereka ikut andil dalam menjaga kekayaan intelektual di Iraq. Ia juga meminta kepada Interpol agar mencegah penyelundupan benda-benda bersejarah dan manuskrip Iraq. Akan tetapi, sebagaimana yang terjadi, usaha itu tidak memberi efek sama sekali.Kita Tak Peduli, Mereka Memburunya

Ketika umat Islam tak peduli manuskrip, para orientalis dan ilmuwan Barat malah memburunya. Dan nyatanya, mereka memetik manfaat yang besar dari karya para ulama itu.

Para ilmuwan Rusia misalnya, mereka serius mengkaji manuskrip para ulama yang berhubungan dengan ilmu astronomi, yang disimpan di Perpustakaan Petersburg.


Salah satu manuskrip yang mereka kaji adalah al Madhal ila Shina’ah Ahkam an Nujum, karya Kusyar bin Lubban, salah satu ulama Persia. Kitab ini ditulis pada tahun 1130 Masehi.

Perpustakaan Petersburg, memang menjadi pusat rujukan banyak orientalis. Mereka dengan bergairah mengkaji karya-karya ulama yang tersimpan di situ, terlepas tujuan mereka mengkaji. Mestinya, umat Islam sebagai penerus ilmu para ulama, lebih giat dari mereka.

Tidak hanya mengkaji dan mengambil pengetahuan, lebih dari itu, mereka bisa menikmati karya-karya ulama tersebut. Simak perkataan Dr. Olga Frolova, seorang profesor dalam bidang kajian Islam dan kebudayaan Arab. ”Karena saya tidak menikah dan tidak memiliki keluarga, maka hidup saya tidak bisa lepas dari manuskrip. Saya merasa seperti bercakap-cakap dengan para ulama yang hidup pada zaman dahulu. Saya seperti mendengar langsung perkataan ganerasi lampau itu. Ini kenikmatan yang saya rasakan dan mungkin ini kesuksesan bagi saya, karena saya bisa berkomunikasi dengan para cendekiawan yang hidup di masa lalu.”

Mereka juga amat menyadari posisi penting manuskrip, hingga tidak melepaskan begitu saja, apalagi dikembalikan kepada umat Islam. Dr Mikhail Abiyatrovsky, Ketua Institute of Orientalism Rusia mengatakan, ”Saya yakin, keberadaan manuskrip Arab di perpustakaan- perpustakaan Rusia amat penting, karena Barat perlu memahami pentingnya peradaban Arab. Karena itu, harus ada sekelompok orang yang mengkaji manuskrip hingga semua bisa mengetahui secara sempurna peradaban Arab. Dan hanya dengan mansukrip, kita memperoleh informasi yang valid, karena benda itu adalah rujukan awal. Dengan begitu, dialog antar peradaban bisa tercipta. Inilah salah satu tujuan studi orientalisme.”

Para orientalis juga amat gigih dalam “menjaga” manuskrip Islam. Dr Mikhail menyeru kepada semua pakar agar memperhatikan kelestarian manuskrip, termasuk para pakar kimia. Mereka bisa memberi sumbangan tentang cara menjaga manuskrip agar tetap lestari.

Orientalis asal Rusia ini juga mengatakan, banyak pihak memiliki perhatian khusus terhadap manuskrip, tapi mereka gagal menjaga manuskrip dari kerusakan, pencurian dan jangkauan tangan-tangan mafia. Bagaimana ribuan manuskrip Islam itu bisa pindah ke tangan Rusia? Sayangnya, Mikhail tidak menjelaskan.

Walau para orientalis itu akrab dengan manuskrip, belum tentu mereka jujur dan benar dalam menyampaikan sebuah informasi yang diambil dari manuskrip tersebut. Dr Musthafa as Siba’i dalam bukunya berjudul as Sunah wa Makanatuha fi al Islam (Sunnah dan Kedudukannya dalam Islam) menjelaskan beberapa contoh tentang usaha para orientalis untuk menyerang bangunan keilmuan Islam. Salah satu di antaranya, usaha seorang oriantalis yang bernama Yousef Chekt. Orientalis yang satu ini mencoba menjatuhkan kredibilitas Ibnu Al Mubarak, dengan menyebutkan bahwa Imam Muslim men-jarh (mencela) beliau dalam muqadimah Shahih Muslim. Padahal justru sebaliknya, Imam Muslim men-tsiqahkan beliau. Tulisan Imam Muslim yang berbunyi “tsiqqah” diganti dengan “baqiyyah”.

Hal yang sama dilakukan oleh Goldzier, yang mengatakan bahwa seorang periwayat Hadits yang bernama Ziyad bin Abdullah Al Bukai sebagai seorang pendusta menurut Al Waqi’. Akibatnya, Hadits yang diriwayatkan beliau tertolak. Padahal sebaliknya, dalam Tarikh Al Kabir, milik Imam Bukari, Al Waqi’ mengatakan, ”Dia (Ziyad) jauh dari perbuatan dusta.”

Walhasil, jika kaum orientalis dengan gigih mengkaji karya para ulama kita, mestinya kita lebih gigih dari mereka. Kalau kita tak peduli dan membiarkan Barat menguasainya, bagaimana kita bisa mentrasfer peradaban Islam terdahulu ke zaman kini? Dan kalau mereka memberikan sebuah informasi yang dinisbatkan kepada karya seorang ulama, padahal informasi itu tidak benar, bagaimana kita bisa menunjukkan bukti, jika tulisan tangan para ulama berada di tangan mereka?
 
Wallahu’alam bisshowab.

Tidak ada komentar