Kupas Situs Gunung Nagara Kecamatan Cisompet






Gunung Nagara merupakan Situs Prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan antara Kecamatan Cisompet dan Kecamatan Pamengpeuk Kabupaten Garut. 

Gunung Nagara tepatnya membentangi beberapa desa di sebelah timurnya adalah Desa Depok Kecamatan Cisompet, di sebelah baratnya adalah Desa Bojong Kecamatan Pamengpeuk, di sebelah utaranya adalah Desa Sukanagara Kecamatan Cisompet, di sebelah selatannya adalah Desa Kecamatan Pamengpeuk. 

Situs Gunung Nagara tediri dari tiga kompleks pemakaman, kompleks kesatu terdiri dari 25 makam, kompleks kedua terdiri dari dua makam dan Kompleks ketiga terdiri dari 1 makam,  tentang pemakaman tersebut tidak ada yang tahu dengan pasti / tepat siapa siapa saja yang disemayamkan disana, yang jelas semua yang dimakamkan disana adalah makam jaman dari kerajaan Salaka Nagara, kerajaan Taruma Nagara dan Kerajaan Sunda dan Pajajaran, hal ini dapat dilihat dari tulisan batu nisan salah satu makam. 

Situs Gunung Nagara terletak pada ketinggian sekitar 350 mdpl, dan areal situs ini sekitar 30 ha, menjadikannya sebagai kompleks pemakaman raja-raja di tatar sunda. Menurut legenda dan cerita para leluhur, Situs Gunung Nagara merupakan tempat pertemuan ritual peristirahatan raja-raja yang telah melepaskan kedudukannya, sebagai salah satu penghormatan dari raja-raja yang masih bertahta, di Situs Gunung Nagara dulunya dibangun sebuah komplek padepokan  dan diberinya Padepokan Nagara (sekarang Padepokan Gunung Nagara). Semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Dan ada juga yang mengatakan bahwa situs ini merupakan tempat persemedian terakhir menuju sang pencinta bagi raja-raja Sunda atau para-raja yang ada di dalam wilayah kemaharajaan Sunda Nusantara. Sekarang Situs ini dipakai tempat berziarah dan ada juga sekelompok penganut agama asli Sunda (Sunda Wiwitan) untuk melakukan upacara.

Berdasarkan kepercayaan pada jaman Sunda kuno tempat ini memiliki tempat "kabuyutan" (tempat leluhur yang dihormati oleh orang Sunda) yang diapit oleh dua sungai yaitu di sebelah timur : Sungai Cikaso (Ci artinya sinar dan kata “kaso” dari kata ngaso atau istirahat) yang artinya tempat peristirahatan. Di sebelah barat : Sungai Cipalebuh (Ci artinya Sinar dan palebuh artinya pelebur) yang artinya tempat melebur diri dengan alam. 


Kedua sungai ini akhirnya bertemu  menjadi satu sungai, posisi situs ini ada di tengah tengah  aliran kedua sungai tersebut, konon pertemuan  air sungai Cikaso dan Cipalebuh apa bila di pakai bermandi membersihkan badan dipercaya  untuk melebur  segala sesuatu  yang dianggap kotor  namun bagi raja-raja adalah dipercaya agar dosa dosa diampuni oleh yang maha kuasa. Situs Gunung Nagara adalah dulunya dijadikan tempat mensucikan diri agar diampuni semua dosa oleh Sang Hyang Widi.
 
Di duga Situs Gunung Nagara adalah sebuah bangunan sesungguhnya bukanlah gunung, melainkan bangunan berbentuk mirip dengan “Waruga” yaitu pembangunan kuburan-kuburan seperti di daerah parahyangan, hal ini dapat dilihat dari sisi-sisi tebing  pemakaman yang mirip bangunan dari batu yang disusun rapi, hal ini bisa dilihat jelas dari sebelah timur Gunung Nagara, karena sudah ribuan tahun maka terlihat seperti Gunung karena tertimbun abu volkanik, sehingga terlihat seperti gunung yang sudah ditumbuhi pepohonan. Di dalam situs Gunung Nagara dipercaya memiliki ruang di dalamnya, yang kini telah tertimbun tanah. Dalam situs Gunung Nagara diperaya banyak orang bahwa ada harta yang tersimpan didalamnya, hal ini dibuktikan ada beberapa orang yang tak bertanggung jawab menggali-gali tanah di sekitar area pemakaman.

Kecurigaan bahwa di dalam situs ini ada banyak tersimpan harta berawal dari bentuk Gunung Nagara yang hampir mirip sebuah bangunan empat persegi panjang dan menjolor dari utara ke selatan. Namun disayangkan sampai saat ini belum ada pihak-pihak yang meneliti lebih jauh,mudah-mudahan setelah pemecahan kabupaten Garut menjadi dua kabupaten, pemerintah garut selatan nanti dapat memperhatikan situs Gunung Nagara yang memiliki nilai sejarah ini.



KEINDAHAN GUNUNG NAGARA
Dalam peradaban tatar Sunda, Kabupaten Garut pada umumnya, khususnya wilayah Garut selatan kurang begitu diperhatikan. Terlebih jika dikaitkan dengan kerajaan atau dengan isu penyebaran ajaran Islam. Sebab dipungkiri ataupun tidak, di wilayah Kabupaten Garut tidak pernah berdiri kerajaan besar sekalipun GaluhPakuan, Sumedang Larang, Pajajaran, Kasepuhan dan Banten. Akan tetapi,realitas tersebut tidak menutup kemuungkinan jika di wilayah Garut pernah berdiri kerjaan kecil yang dijadikan basis penyebaran agama islam di wilayah Garut selatan yang terjadi sekira awal abad 13 atau mungkin jauh lebih awal terjadi pada sekitar abab ke 8 M pada jaman Rakryan Sancang.

Berbicara tentang gunung, terkadang kita hanya terpokus gunung itu hanya lereng yang di lapisi pepohonan yang hijau dan berbagai satwa liar di dalamnya. Sebenarnya Gunung Nagara ini mempunyai nilai mistiknya. Gunung tersebut bisa kita jadikan sebagai tempat mendaki, khususnya pendaki pemula.

Selama mendaki, kita akan disuguhkan dengan keindahan pepohonan yang masih  hijau, udara yang segar, air terjuan yang mengalir disana serta makam-makam sejarah. Gunung ini juga bisa dijadikan sebagai sumber sejarah bagi mereka yang ingin mengetahui khususnya cerita Kian Santang.

Di tempat tersebut masih banyak terdapat pohon burahol, menyan, kananga, bintanu, kigaru, binong serta masih banyak jenis tumbuhan lainnya yang mungkin secara ilmiah belum dikenal, dan belum diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia.

Kekayaan fauna juga dimiliki hutan Gunung Nagara. Kalau kebetulan, kita akan menemukan burung rangkong (Buceros rhinoceros) di atas pohon yang cukup tinggi. Tubuhnya yang cukup besar diperindah dengan mahkota oranye di atas kepalanya. Bagi yang pertama menemukan burung ini mungkin akan merasa aneh, sebab ketika burung tersebut akan terbang, biasanya memberi aba-aba dengan suara “gak” yang keras mirip suara monyet. Lantas, ketika sudah tinggal landas, kepakan sayapnya mengeluarkan suara yang dramatis.

Selain burung Rangkong, masih terdapat hewan langka lainnya misalnya : kambing hutan, landak, kucing hutan, macan kumbang, walik, surili dan beragam jenis kupu-kupu.

Secara geografis, ia terletak di wilayah Desa Depok - Kecamatan Cisompet - Kabupaten Garut. Menuju daerah tersebut relatif gampang, dari terminal Garut kita hanya tinggal naik elf  jurusan Pamengpeuk - Garut atau menggunakan kendaraan Pribadi (Motor atau Mobil).


Kita berhenti di Kampung Pagelaran, dari kampung tersebut, bukit Gunung Nagara sudah tampak begitu jelas, namun sekilas tidak ada jalan menuju bukit tersebut, yang terlihat hanyalah tebing cadas yang menurut pemikiran normal tidak mungkin untuk didaki tanpa peralatan panjat. Dari Kampung Pagelaran, kita tinggal berjalan kaki menuju Kampung Depok dengan jarak sekira satu kilometer. 

Menurut Hikayat, nama Depok dikaitkan dengan padepokan. Artinya perkampungan tersebut pada awalnya merupakan padepokan tempat peristirahatan para gegeden. Sebenarnya, menurut Ki Ecep (sesepuh kampung), pada era enam puluhan, kampung Depok masih merupakan perkampungan dengan tradisi yang sama dengan Baduy. Akan tetapi, setelah kampung tersebut dibumi-hanguskan gerombolan DI/TII, terjadi perubahan cukup signifikan. Sekarang tidak akan lagi terlihat rumah-rumah panggung berjajar menghadap kiblat.

Bagi mereka yang suka akan keindahan alam alangkah baiknya terlebih dahulu mengunjungi Batu Opak yang berada kurang lebih setengah kilometer ke arah hulu. Di tempat tersebut kita akan menyaksikan fenomena geologis, yakni batu yang berjajar secara sinergis dari arah bukit menuju sungai dengan bentuk mirip seperti opak. 


Penduduk sekitar menghubungkan fenomena geologis tersebut dengan legenda Sangkuriang, yaitu, ketika Sangkuriang akan menikah. Embah Rajadilewa (penguasa Daerah Selatan) mau membantu nyambungan. Akan tetapi, baru saja mereka sampai di Leuwi Tamiang, dari arah Timur terlihat fajar, sehingga mereka menyimpan barang bawaannya ditempat tersebut, hingga ia berubah menjadi batu.

Bagi mereka yang baru mengunjungi tempat ini, di kampung Depok inilah bisa menemui Ki Anang (kuncen) untuk minta diantar.

Dari Depok, kita melanjutkan perjalanan menuju Cidadap dengan jarak kurang lebih setengah kilometer, perjalanan ini melewati pesawahan yang tidak terlalu luas. Di Cidadap inilah terdapat mata air yang dikeramatkan. Secara nalar, air dapat menyegarkan badan. Perjalanan baru akan mendapat tantangan manakala kita mulai merayap,mendaki jalanan setapak yang cukup terjal (Cidadap-Gunung Nagara). Terkadang kita harus melewati jalanan yang kemiringannya mencapai 75 derajat. Dari Cidadap, kita tidak akan menjumpai jalanan yang datar, kanan kiri jalan masih terdapat banyak pohon besar, sehingga walaupun kelelahan kita bisa beristirahat cukup santai. Perjalanan ini jika ditempuh dengan santai paling memakan waktu sekira setengah jam.

Sesampainya di puncak Gunung Nagara, secara langsung kita telah sampai di kompleks pemakaman. Tempat itu dikenal dengan pusaran ka hiji (kompleks pertama) yang di tempat ini terdapat dua puluh enam kuburan. Kuburan-kuburan tersebut relatif besar-besar. Setiap kuburan dihiasi batu “sakoja” dan batu nisan. Dinamaisakoja, karena batu tersebut berasal dari sungai Cikaso diambil dengan menggunakan koja (kantong).

Kalau kita perhatikan secara seksama, komplek pekuburan tersebut tersusun secara rapi membentuk sebuah struktur organigram. Lima belas meter ke arah utara, terdapat kubur an yang dikenal dengan pusarankan dua. Di tempat ini hanya terdapat dua kuburan. Sekira dua kilometer ke arah utara, terdapat kuburan yang dikenal dengan pusaran katilu yang hanya terdiri dari dua kuburan. Konon kabarnya, kuburan ini merupakan kuburan Embah Ageung Nagara dan patihnya.

Menurut Mantan Kepala Desa Depok, Abdul Rasyid, tiga pusaran tersebut melambangkan Al Quran yang terdiri dari 30 juz. Pusaran pertama yang terdiri dari 26 kuburan melambangkan bagian Mufassal (surat-surat) pendek, pusaran kedua melambangkan al-mi’un dan pusaran ketiga melambangkan sab’ul matsani. Oleh sebab itu, tidak diperbolehkan menambah kuburan.

Lebih lanjut,ia mengatakan kalau pada pusaran pertama itu terdiri dari para pengikut/pengawal yang salah satu di antaranya perempuan, pusaran kedua merupakan kuburan panglima dan pusaran ketiga merupakan kuburan raja dan patih.Sebenarnya, jika kita mau melanjutkan perjalanan ke arah utara, kita akan menemukan sebuah kuburan yangterpisah, konon kabarnya kuburan tersebut merupakan kuburan seorang berbangsa Arab.
  
Lebih jauh, menurut Abdul Rasyid, sebenarnya situs Gunung Nagara terdiri atas beberapa peninggalan dalam bentuk barang. Namun sayang, naskah aslinya terbakar manakala gorombolan (DI/TII) menyerang Kampung Depok, sedangkan beberapa naskah lainnya yang tersisa dan barang-barang peninggalan sudah menjadi milik orang Tasik. Barang-barang yang masih ada, terpencar diperseorangan.

Bagi para peziarah yang terbiasa melakukan semedi, disyaratkan baginya untuk melakukan ritual mandi di Sumur Tujuh. Sumur tersebut berada sekira setengah kilometer ke arah lembah. Sumur itu berada tepat didekat sungai kecil. Sebenarnya, sumur itu merupakan kubangan-kubangan kecil akibat dari resapan air.

Legenda Kian Santang Menurut sebagian besar masyarakat Depok, Situs Gunung Nagara erat kaitannya dengan penyebaran Islam di wilayah Garut Selatan yang disebarkan atas jasa Prabu Kian Santang. Malahan diklaim kalau sesungguhnya daerah Leuweung Sancang merupakan tempat peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi (raja pajajaran yang terkenal), sehingga begitu melegenda kalau di leuweung tersebut terdapat harimau jadi-jadian, bekas pasukan Prabu Siliwangi. Sementara itu, walaupun terdapat daerah yang diklaim sebagai tempat peristirahatan terakhir Prabu Siliwangi, penduduk Garut selatan meyakini bahwa kuburan asli Prabu Kian Santang itu berada di kompleks pemakaman Gunung Nagara. Benarkah demikian???

Menurut mereka, keberadaan kuburan lainnya hanya merupakan tempat persinggahan Prabu Kian Santang.Misalnya saja pemakaman Godog di daerah Suci-Karangpawitan-Garut. Mereka menyatakan kalau sesungguhnya di tempat tersebut Prabu Kian Santang hanya tinggal berkontemplasi merenungi kekeliruannya dalam melakukan sunat terhadap orang yang masuk Islam. Oleh sebab itu, tempat tersebut dinamakan “Godog” yang mengandung arti tempat penyucian jiwa atau dalam istilah pewayangan “Kawah Candradimuka”, dan karenanya pula tempat ketika ia turun dari daerah tersebut dinamakan “Suci”, yang berarti setelah melakukan kontemplasi ia kembali pada kesucian yang kemudian melanjutkan perjalanan menuju Garut Selatan.





Kian Santang, Kian Sancang dan Sayidina Ali bin Abi Thalib

Banyak beredar kisah folklore secara tutur tinular dalam bahasa lisan tentang kisah Kian Santang dan Sayidina Ali RA. Berdasarkan sumber tradisi lisan tersebut diceriterakan bahwa Kean/Kian Santang di Islam- kan oleh Syaidina Ali (Ali bin Abi Thalib) dan memiliki pedang Nabi Besar Muhammad SAW. Dengan asumsi saat itu Sayidina Ali bin Abi Thalib telah menjadi Khalifah (khalifah terakhir dalam khulafaur Rasyidin).

Dari keterangan itu, kita dihadapkan pada kebingungan luar biasa seperti Prabu Siliwangi hidup pada abad ke 15-16 M atau menjadi penguasa Pakuan Padjadjaran pada 1482-1521 M, sedangkan Ali bin Abi Thalib hidup pada zaman Rasulallah yakni permulaan tahun Hijrah atau abad ke-6 M (579 M). Bagaimana bisa rentang waktu 1000 tahun itu terjadi? banyak argumentasi yang diajukan. Diantara atas kehendak Allah SWT bisa terjadi. Ada pula kejadian itu yaitu pertemuan Kian Santang dan Sayidina Ali RA hanya ‘terjadi’ di alam ghaib.

Mari kita membahasnya secara logis dan rasional agar kisah ini bisa masuk dalam ranah sejarah besar budaya kita, bukan sekedar mitos belaka. Kembali pada kisa di atas. Rentang waktu 10 abad itu tidak masuk akal, terlebih lagi adanya anggapan bahwa Prabu Siliwangi menentang Islam, padaghal istrinya Islam.

Berdasarkan informasi terbaru dari tokoh Ulama Mesir yang dikemukakan kepada Ir H. Dudung Fathirrohman menyatakan, Ali bin Abi Thalib dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara, serta dalam membangun kekuasaan Muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M) mendapatkan bantuan dari seorang tokoh asal Asia Timur Jauh. Konon, keberanian mujahid Timur Jauh ini setara dengan 100 orang Arab.

Bila kita ambil kurun waktu yang sama dengan peristiwa di tanah air, akan terlihat bahwa peristiwa pertempuran tersebut sezaman dengan masa pemerintahan Raja Tarumanegara. Masa ini Jauh sebelum adanya kerajaan Padjadjaran.

Jika meneliti naskah Pangeran Wangsakerta, besar kemungkinan “Tokoh dari Asia Timur Jauh” itu adalah seseorang dari Nusantara di zaman pemerintahan Prabu Kretawarman (561-628 M) Maharaja Tarumanagara generasi VIII. Prabu Kretawarman memiliki dua orang istri. Istri pertama yaitu Putri dari Calankayana, dan istri yang kedua berasal dari Sumatera tidak memiliki anak sehingga menangkat anak kemudian diakuinya sebagai anaknya sendiri bernama Brajagiri.

Prabu Kretawarman merasa dirinya mandul. Dari kedua istrinya, dia tidak mendapat keturunan. Mungkin itu pula yang menjadi ikhwal Sang Prabu sering berburu di hutan, mungkin sekedar menghilangkan rasa itu.

Ketika Prabu Kretawarman mangkat, tahta Kerajaan diwariskan kepada adiknya Prabu Sudawarman padahal sesungguhnya tanpa disadari sempat memiliki keturunan dari seorang puteri pencari kayu bakar Ki Prangdami bersama istrinya Nyi Sembada tinggal di dekat hutan Sancang di tepi Sungai Cikaengan Pesisir Pantai selatan Garut. Putrinya Setiawati dinikahi Kretawarman yang hanya digaulinya selama sepuluh hari, setelah itu ditinggalkan dan mungkin dilupakan.

Setiawati merasa dirinya dari kasta sudra, tidak mampu menuntut kepada suaminya seorang Maharaja, ketika mengandung berita kehamilannya tidak pernah dilaporkan kepada suaminya hingga melahirkan anak laki-laki yang ketika melahirkan meninggal dunia. Bayi itu kemudian dibesarkan kakek-neneknya.

Anak dari Prabu Kretawarman itu oleh Ki Parangdami dipanggil “Rakeyan” mengingat keturunan seorang raja. Maka panggilan sang anak menjadi Rakeyan dari Sancang. Panggilan singkat “RAKEYAN SANCANG atau KIAN SANCANG. Jika ditulis dalam ejaan Bahasa Indonesia lama KIAN SANTJANG.

Kelak Rakeyan dari Sancang itu pada usia 50 tahun pergi ke tanah suci hanya untuk menjajal kemampuan “kanuragan” Syaidina Ali RA yang dikabarkan memiliki kesaktian ilmu perang/ ilmu berkelahi yang tinggi. Sumber lainnya menyebutkan (640 M) Rakeyan Sancang tidak sempat berkelahi dengan Syaidina Ali namun menyatakan kalah akibat tidak mampu mencabut tongkat Syaidina Ali yang hanya menancap di tanah berpasir.

Sejak itulah Rakeyan Sancang menyatakan dirinya masuk Islam kemudian meneruskan berguru kepada Syaidina Ali.

Di pesisir selatan wilayah Tarumanagara (Cilauteureun, Leuweung / Hutan Sancang dan Gunung Nagara) secara perlahan Islam diperkenalkan oleh Rakeyan Sancang yang ketika itu yang mau menerima Islam sedikit sekali. Upaya Rakeyan Sancang menyebarkan Islam terdengar oleh Prabu Sudawarman (Saat itu semua raja Kertanegara juga disebut Siliwangi), yang dinilai bisa mengganggu stabilitas pemerintahan, timbulah pertempuran yang ketika itu Senapati Brajagiri (anak angkat Sang Kretawarman) turut memimpin pasukan.

Rakeyan Sancang unggul, Prabu Sudawarman sempat melarikan diri yang dikejar Rakeyan Sancang, tapi tusuk konde Rakeyan Sancang jatuh pertempuran terhenti kemudian mereka saling menceriterakan silsilah sehingga ada pengakuan Rakeyan Sancang anak Sang Kretawarman.

Peristiwa tersebut berkembang menjadi ceritera dari mulut ke mulut yang menyatakanKean/Kian Santang mengejar Prabu Siliwangi untuk di Islam-kan. Sebenar peristira itu dilakukan Kean/Kian Santjang (Sancang). Pergeseran sosok itu mungkin karena faktor kemiripan gelar/nama SANTANG dan SANCANG.

Kisah Rakeyan Sancang itupun setelah sepuluh abad kemudian terungkap kembali, ketika Walangsungsang dari Cirebon menyusuri sungai Cimanuk sampai ke hulu sungai kemudian menemukan pedang yang disebut-sebut sebagai pedang Nabi Muhammad SAW, pedang itu milik Rakeyan Sancang atau Kean Sancang, pemberian Ali bin Abi Thalib ketika membantu Ali dalam peperangan menegakkan Syariat Islam.

Pengamat sejarah Deddy Effendie menyatakan, sebagian besar buku sejarah Indonesia tentang penyebaran agama Islam di Tatar Sunda dihubungkan dengan tokoh fatahilah sebagai utusan Demak, yang diidentikan dengan Sunan Gunung Jati pendiri Kesultanan Cirebon ketika pemerintahan Padjadjaran dikuasai Prabu Surawisesa atau Ratu Sangiang (1521-1535 M).

Surawisesa pamannya Sunan Gunung Jati sedangkan Sunan Gunung Jati adalah cucu Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Padjadjaran Sri Sang Ratu Dewata, dari Lara Santang yang sejak balita mendapatkan pendidikan Islam dari ibunya Subanglarang, ujar Deddy Effendie kepada garut.go.id di Garut, Selasa.

Dia menyebutkan, Istri Prabu Siliwangi yang dikenal Nyi Mas Sindangksih, Subanglarang dan Nyi Mas Kentringmanik Mayang Sunda, Subanglarang melahirkan tiga orang anak terdiri Walangsungsang, Lara Santang dan Raden Sangara, kemudian Kentringmanik Mayang Sunda melahirkan putra Mahkota yang menjadi Raja Padjadjaran generasi kedua yakni Prabu Surawisesa.

Sementara itu, Raden Walangsungsang memiliki banyak nama antara lain Maulana Ifdil Hanafi, Haji Tan Eng Hoat, Haji Abdullah Iman atau Sunan Rohmat atau Sunan Godok atau Kean Santang.

Tokoh inilah yang disebut-sebut dari sumber tradisi Garut sebagai putra Raja Padjadjaran (Prabu Siliwangi) yang berselisih paham tentang keyakinan agama, tapi akhirnya mereka bersepakat Kean Santang diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam di seluruh wilayah Kerajaan Padjadjaran, petilasan yang bertalian dengan Kean Santang berada di Godog Garut berupa makam, gunung Nagara berupa bekas pertahanan dan di Cilauteureun.

Menurut Deddy Effendie, berdasarkan sumber tradisi Garut diceriterakan Kean Santang di Islam- kan oleh Syaidina Ali (Ali bin Abi Thalib) dan memiliki pedang Nabi Besar Muhammad SAW.

Wallahu A’lam

Sumber: hystoryana.blogspot.co.id


Rakryan Sancang Jeung Agama Selam (Salamet)

Agama Selam/eslam teh ageman ki Sunda anu wiwitan (mimiti), nu geus aya abad ka 1 M di Salakanagara sebenerna mah. pek wae pikiran ka aranjeun na saeuncanna aya Rosulullah SAW di Mekah aya agama atawa heunteu pan ka dieunna aya Nabi Ibrahim a.s karek aya agama selam di tanah arab teh.

Kitu oge pan karek suhuf can aya kitab, ngan kadieuna aya Nabi Musa a.s anu mawa kitab Zabur jeung Nabi Isa a.s anu mawa Injil na ageman teh, kitu oge pan karek umatna nu di tanah israel saeuncan urang Nusa-antara sawareh arasup nasroni waktu jaman kompeni walanda, nu terakhir agama selam (islam) ku dibawa kunu Cahaya-an nyaeta Kanjeng Rosululullah SAW.

Ceuk urang Sancang atawa Kanekesh jaman baheula, “Kami mah ngan kabagéan syahadatna wungkul, henteu kabagéan solatna”.

Sahadat Sancang
Asyahadu Saha-dzat Sunda;
Jaman Allah ngan Sorangan;
Kaduana Gusti Rasul;
Katilu Nabi Muhammad;
Kaopat umat Muhammad;
Nu cicing di bumi anggaricing;
Nu calik di alam keueung;
Ngacacang di alam mokaha;
Salamet umat Muhammad.
Satemenna, urang Sunda mangsa bihari, teu pati resep nulis – ari lain dijieun pagawéan anu husus mah. Catetan lolobana ditalar jeung diapalkeun, terus wé turun-tumurun kitu. Anu pang ahirna, réa anu méngpar jeung dipabeulitkeun ku gésékan pakumbuhan; sosial jeung budaya anu ngindung ka waktu ngabapa ka jaman. Upama manggihan catetan tinulis – geus bisa dipaparah jumlahna ngawates, ayana di kalangan ménak. Mun ragrag ka somah, éta naskah atanapi catetan kacida dipusti-pustina dijieun jimat – bari anu ngukutna téh teu nyaho kana eusina. Rajeun nyaho, ukur dongéng cenah anu dicenahkeun deui.


Ceput Sawal
Cakrawarman – adina Purnawarman kungsi baruntak ka alona, anu ngarana: Wisnuwarman (Raja Tarumanagara ka-4, 434-455 M, anakna Purnawarman). Mangsa Tarumanagara dicekel ku Purnawarman, Cakrawarman dibenum jadi Mahamantri jeung Panglima Perang Tarumanagara. Ningali Cakrawarman kasambut ku panah tentara Wirabanyu (pimpinan koalisi Tarumanagara) di wewengkon Manukrawa –Cimanuk, Ceput Sawal minangka Puragabaya Turangga ti tentara pemberontak Cakrawarman, bisa ngaloloskeun diri tina pangepung tentara koalisi Tarumanagara. Ceput Sawal terus kabur ka pakidulan nepi ka wewengkon basisir, saterusna bumén-bumén di éta pileuweungan – Sancang. Nya ti Ceput Sawal, ngarundaykeun turunan nepi ka Cakradiwangsa –anu ceuk urang kampung adat Dukuh Cikelét mah: Candradiwangsa ti Karajaan Manukrawa.

Balad-baladna Ceput Sawal ti pasukan pemberontak, kaburna téh aya nu mangprét ka Wétan jeung aya nu ka Kulon. Nu ka Wétan, nyumput di Galunggung. Nu ka Kulon, labas ka Gunung Kolot – Banten. Anak turunanana, ngababakan nyarieun kampung adat.



Rakryan Sancang
Mangsa Prabu Kretawarman – Raja Tarumanagara ka-8, Tarumanagara geunjleung pédah sang prabu ngawin awéwé ti golongan sudra. Setyawati dikawin ku Kretawarman téh lain awéwé teureuh ménak, tapi ti cacah kuricakan. Tapi kusabab sagala kalakuan raja mah geus jadi hukum nagara, wenang sakumaha karepna, antukna kajadian ieu disidem teu dibarubahkeun. Ngan dina hiji mangsa, Setyawati api-api ngaku reuneuh. Padahal pangeusi Tarumanagara geus apal cenah, yén Kretawarman téh dianggap mandul. Pikeun ngaleungitkeun skandal ieu, antukna Kretawarman ngangkat anak anu ngaranna : Brajagiri.
Manuver Kretawarman saperti kitu téh teu bisa ngabalukarkeun suasana karajaan jadi kondusif, tetep waé harénghéng. Najan kitu, Kretawarman tetep ngabahureksa jadi Raja Tarumanagara tepi ka tamat teu aya anu wani ngagunasika. Pikeun nyingkahan harénghéngna suasana di karaton, Kretawarman kungsi bubujeng ka daérah pakidulan –pernahna di wewengkon Sancang Garut.

Ti dinya, dihiji tempat, tepung jeung Nyi Arumhonjé – siwina Cakradiwangsa, anu gawéna disagédéngeun pangebon ogé pamayang, tampolana mah jadi tukang ngala suluh ka leuweung. Kretawarman ka jamparing ati ka panah rasa, ningali kageulisan Nyi Arumhonjé. Teu ku hanteu maké silih kelétan sagala jeung Nyi Arumhonjé – tempat silih kelétanana, kiwari nelah: Cikelét.

Nyi Arumhonjé terus baé dikawin, tapi dicampuran ngan ukur salapan poé – da Raja kudu mulang, ngurus nagri ngolah nagara. Nyi Arumhonjé, ditinggalkeun – lantaran embungeun dibawa ku Raja ka karaton. Sanajan kitu, dipipanumbasna – mas kawin ti raja mah mangrupa pakéan jeung perhiasan, disérénkeun ka Nyi Arumhonjé. Kitu deui lilingga anu dijieun tina gading dilapis emas minangka tanda kahormatan, dipasrahkeun ka Nyi Arumhonjé – bisi jaga hayang nepungan raja ka nagara.

Sabada ditinggalkeun ku Kretawarman, Nyi Arumhonjé terus kakandungan – dina Naskah Pangéran Wangsakerta, Prabu Kretawarman téh disebutkeun teu bogaeun anak atawa mandul. Keun baé, da Naskah Pangéran Wangsakerta ogé masih disebut wadul alias disangka teu ilmiah. Basa keur nyiramna, pikawatireun. Miraga tineung ka nu jadi carogé.
Rara hulanjar – wanoja anu dikantun ku panutan, antukna mah gering. Nepi ka mangsana ngajuru, Nyi Arumhonjé terus purané – maot. Untung orokna mah salamet anu saterusna dirorok ku nini akina, bari kituna téh teu wasaeun méré ngaran – ukur nyebut : Jalu’ tampolana osok disebut ‘Rakryan’ (anak raja) dina ngébréhkeun kadeudeuhna téh.

Budak anu disusuan ku citajén, tampolana mah ku susu embé – ingon-ingon Aki Cakradiwangsa téh katingalina séhat. Gedé saeutik, geus bisa ngorondang. Sapopoéna, dibéré dahar lauk laut jeung beubeutian. Ti keur orok beureum kénéh ogé osok dikojaykeun di laut, dina karang anu ngampar supaya teu kabawa ku lambak. Sanggeus bisa leumpang, osok mimilu ka akina ngala suluh ka leuweung atawa dibawa nguseup ka tengah laut. Ku akina diwarah ngojay jeung milebuh – teuleum. Rada gedé saeutik, jadi budak jarambah. Karesepna taya lian ti ulin di Leuweung Sancang atawa ngangkleung di sagara dina luhur bahétra – parahu.

Nepi ka mangsa rumaja, basisir Kidul mah geus jadi pangulinan Rakryan – ti Pananjung nepi ka Panaitan. Salian ti kitu, Rakryan Sancang resep ngulik élmu kabedasan. Méh sakabéh anu weduk, didatangan diajak madwandwa yuddha – ngalaga, gelut paduhareupan. Mun éléh osok terus diguruan, mun meunang osok terus dipisobat. Tara pinejahan – maéhan ka musuh, ari lain kapaksa mah. Bayu sasanga – kakuatan anu aya dina diri manusa, diulik kalayan daria. Ti harita, ngaranna jadi sohor : Rakryan ti Sancang Garut.


Tanah Arab
Sanggeus sawawa, Rakryan Sancang hayang panggih jeung anu jadi bapana. Ku akina diterangkeun sacéréwéléna teu di dingdingkelir sindangsiloka, yén bapana téh Maharaja Tarumanagara: Prabu Kretawarman. Ku akina dibahanan lilingga – ciri atawa tanda kulawarga raja, supaya di ditu teu disaha-saha. Geus kitu mah, Rakryan Sancang nyieun bahétra.

Sabada parahuna siap, laju ngangkleung ka kulonkeun di Sagara Kidul. Di Palabuhan Tanjung Lada – Banten, reureuh heula saméméh neruskeun lampahna. Ti dinya papanggih jeung sudagar Arab anu ngabéwarakeun yén di tanah Arab aya agama anyar anu nyebarkeunana téh, jago pilih tanding tur sakti, ngaranna: Ali bin Abi Thalib. Kataji ku éta jago, Rakryan Sancang henteu tulus nepungan bapana di Tarumanagara.

Ongkoh deui ngadéngé béja yén bapana geus muksa – maot, diganti ku pamanna: Rajaresi Suddhawarman. Rakryan Sancang mutuskeun milu ka sudagar maké kapal gedé, nuju ka tanah Arab. Di satengahing balayar, Rakryan Sancang diajar paranusa – basa anu dipaké di nagara-nagara deungeun. Tepung jeung Ali bin Abi Thalib, Rakryan Sancang katétér jajatén. Geus kitu mah, Ali bin Abi Thalib dipiguru ku Rakryan Sancang. Saterusna jadi catrik – santri,  diajar agama Islam di Arab.


Agama Selam
Mangsa harita di tanah Arab, khalifah Abu Bakar di ganti ku Umar bin Khatab. Rakryan Sancang diajar agama Islam ku cara ditalar langsung ti Ali bin Abi Thalib, tacan aya buku Qur’an jeung buku Hadist –aya ogé mushaf Al Qur’an di Siti Hafshah, istri Nabi SAW.

Mulang deui ka Sunda, Rakryan Sancang népakeun élmu agama Islam ka sobat-sobatna (abad ka-7). Pangpangna di lingkungan kaum Sudra – kaum somah anu ajénna panghandapna. Pangikutna loba, bari terus nambahan. Kusabab basa Arab susah dihartikeunana, Rakryan Sancang ngajarkeun akidah Islam téh maké basa Sunda Kuna. Asmaul Husna ngaran-ngaran Alloh anu ku basa Sunda disebut Hyang, ditataan nepi ka 99 (Para Hyang).

Nya Asmaul husna ieu anu disebut : Parahyangan – tempat sumerah diri (Islam). Kawasna baé ti harita, wewengkon Sunda sok disebut Parahyangan tug ka kiwari – malah robah vocal, osok nyebut : Priangan. Ku para pangikutna, agama Islam téh disebutna: agama Selam. Agama urang Sunda anu wiwitan – mimiti.

Dina agama Sunda Wiwitan, aya anu unina kieu :
Nya inyana anu muhung di ayana; aya tanpa rupa; aya tanpa waruga; hanteu ka ambeu-ambeu acan; tapi wasa maha kawasa di sagala karep inyana. (nya mantenna anu Maha Agung di ayana; aya tanpa rupa; aya tanpa wujud; henteu ka ambeu-ambeu acan; tapi kawasa maha kakawasaanana di sagala karep-Na).

Hyang tunggal tatwa panganjali; ngawandawa di jagat kabéh alam sakabéh; halanggiya di saniskara; hung tatiya ahung. (hyang tunggal anu Maha Luhung; satemenna tujuan utama manusa ‘sembahyang’/sembah Hyang; henteu boga anak henteu boga dulur; boga baraya jeung batur ogé henteu di jagat jeung ieu alam; anu pang-unggulna dina sagala rupa hal; hung, tah éta téh nu ngagem bebeneran sajati, ahung). Upama ditengetan, apan éta harti kalimah téh sarua jeung surat Al Ikhlas – anu béda, ukur basana.


Lawang Sanghyang
Rakryan Sancang terus muka pasantrén di Lawang Sanghyang – lawang ka Gusti Alloh (maksudna mah meureun: masjid). Wewengkon Lawang Sanghyang di Nangkaruka, kiwari katelah jadi : Pakénjéng – wancahan tina: pakéna élmu ajengan. Mimitina mah santrina téh ukur hiji dua urang, sobat-sobatna anu baheula kungsi ditalukeun ogé terus anut jadi santrina. Masjidna anu mangrupa wawangunan badawang sarat – wangunan anu maké hiasan lauk, dijadikeun tempat meuseuh élmu agama Islam. Tihangna dijieun tina kai kalapa, ukuranana 7 x 9 méter, mangrupa wangunan panggung, hateupna ku injuk.

Rohanganana ngagemblang, aya kamar leutik lebah Kulon 2 x 2,5 méter. Di tengah-tengahna kosong, aya paimbaran – tempat imam mingpin ibadah. Terus aya wangunan pawon –dapur, jeung pagencayan – wangunan tempat nutu paré. Leuit – tempat nyimpen paré, rada anggang ti dinya. Aya pancuran tujuh Cikahuripan, keur dipaké susuci. Para wasi – santri méméh arasup ka wangunan badawang sarat, wajib beberesih heula di pancuran tujuh Cikahuripan. Ja mandi junub/ hana ti sarira/santi ku ti katuhu/santi ku ti kényca/sungut nirmala nyarék/ ceuli nirmala ngadéngé (mandi jeung adus; beberesih awak; beresih ku ti katuhu; beresih ku ti kénca; sungut suci tina nyarita; ceuli suci tina pangdéngé). Rohangan utamana disebut Hinten Managgay, nyaéta tempat pikeun muja parahyang – asmaulhusna téa. Loba citrik byapari – kaom terpelajar anu daratang ka dinya ngadon cacahan – ngobrol, gotrasawala – diskusi, jeung tolabul ilmi – nyuprih élmu.

Ceuk angkeuhan urang Hindu anu aya di Tarumanagara mangsa harita (638-639 Masehi), Rakryan Sancang dianggap geus nyebarkeun agama ‘kotor’. Agama anu mahiwal disebut ‘agama Sunda nu mimiti’ téh, salawasna ngabebegigan ka urang Hindu. Atuh meredih ka Rajaresi Suddhawarman – Raja Tarumanagara ka-9 (paman Rakryan Sancang), sangkan ngahukuman Rakryan Sancang. Perang campuh Rajaresi Suddhawarman jeung Rakryan Sancang, dimeunangkeun ku Rakryan Sancang. Rajaresi Suddhawarman kasoran ngejat ti pakalangan –bari terus diudag-udag ku alona (Rakryan Sancang), lamun teu dihalangan ku senapati Brajagiri – anak kukutna Kretawarman (Kretawarman téh bapana Rakryan Sancang) mah tinangtu Suddhawarman baris kasambut ku wewesén Rakryan Sancang. Brajagiri nyadarkeun duanana, yén masih aya hubungan alo-paman.

Taun 639 Rajaresi Suddhawarman terus maot. Tahta Tarumanagara ragrag ka Déwamertyatma Hariwangsawarman – jadi Raja Tarumanagara ka-10 anakna Suddhawarman, tapi teu lila jadi rajana (639-640 M), ukur bubulanan. Kaburu dipaéhan ku Brajagiri. Raja Tarumanagara ka-11 tungtungna ragrag ka minantuna Hariwangsawarman, anu ngarana: Nagajayawarman.

Satemenna, Hariwangsawarman téh anakna Suddhawarman ti putri karajaan Pallawa India. Hariwangsawarman digedékeun di Pallawa, kalayan meunang atikan anu keras dina urusan kasta. Waktu ngaganti bapana jadi Raja Tarumanagara di Tatar Sunda, Hariwangsawarman ngonclah Brajagiri tina kadudukan senapati karajaan jadi penjaga gerbang karaton.
Ku angkeuhan Prabu Hawiwangsawarman, Brajagiri diturunkeun pangkatna téh pédah lain ti golongan ménak karajaan. Brajagiri anu diangkat anak ku Kretawarman téh, ti golongan sudra. Nya pédah diturunkeun pangkatna tina senapati Tarumanagara jadi penjaga gerbang karaton ieu, anu ngabalukarkeun Brajagiri kolu téga maéhan Hariwangsawarman.

Sanggeus réngsé perang campuh jeung pamanna, Rakryan Sancang indit deui ka Mekkah (antara taun 640 M) rék neuleuman élmu agama, rada ngampleng di dituna. Ngampleng sotéh, ngilu jihad heula di Iraq; Mesir; Syria; terus ka Jerusalem jeung pasukan Islam. Mulang deui ka Tatar Sunda maké kapal sudagar Arab, malahan sababaraha urang Arab anu geus asup Islam ogé marilu. Di Palabuhan Sumatera Kalér, kapal téh balabuh heula. Ngakut barang dagangan, kayaning: kapol jeung pedes, saméméh diteruskeun ka Palabuhan Banten.

Kusabab angin jeung lambak laut kacida motahna, atuh rada lila cicing di Acéh na téh. Malahan sawaréh mah aya anu karawin ka urang dinya, anu saterusna jaradi urang Acéh. Ti harita, hubungan urang Arab jeung Acéh jadi raket. Sanggeus angin jeung lambak teu motah teuing, kapal dagang Arab rék neruskeun deui lalampahan ka Tatar Sunda. Tapi, teu ku hanteu. Di tengah laut, angin jeung laut motah deui. Kapal kapaksa kudu balabuh di Sumatera Kulon – Minangkabau.

Tina kajadian éta, hubungan: Acéh; Minang; jeung Sunda (Rakryan Sancang) jadi kacida raketna. Samalah loba urang Acéh jeung Minang, anu milu tolabul ilmi di Pasantrén Lawang Sanghyang – Pakénjéng Garut. Urang Acéh jeung Minang daratangna ka tempat éta, ngaliwatan laut anu saterusna nonggoh ka kalérkeun ti Darmaga Rancabuaya.
Samulangna di Tatar Sunda, Rakryan Sancang ngadegkeun pertahanan di Gunung Nagara –Cisompet, Garut Kidul. Bari nyebarkeun agama Selam – Islam hasil talaran ti Ali bin Abi Thalib anu lolobana Akidah jeung Tauhid. Pertahanan di Gunung Nagara, katelahna: kadatuan Suramandiri. Kacida wedel jeung kuatna, pikeun nyingkahan tina panarajang musuh ti luar.

Nalika ngadéngé béja Ali bin Abi Thalib dibacok mastakana waktu keur sholat di Masjid Kuffah, Rakryan Sancang angkat deui ka tanah Arab. Miangna Rakryan Sancang ka tanah Arab, pikeun Nagajayawarman mah jadi boga kasempetan keur ngarurug umat agama Sunda nu mimiti. Tentara Tarumanagara diasupkeun jadi telik sandi – mata-mata bari pura-pura asup agama Selam.

Atuh waktu pasukan Nagajayawarman ngagempur Gunung Nagara téh, harita kénéh burak teu manggapulia. Pertahanan Gunung Nagara, bangkar. Nu anut ka Rakryan Sancang, mancawura. Mulang ti tanah Arab, Rakryan Sancang kacida prihatinna. Ningali Gunung Nagara jadi kuburan masal. Ti dinya, terus indit ka Kalér. Lebah Cihideung, kungsi ngajejentul lila naker.

Nyawang pasir anu tingrunggunuk, mulan-malen nyaksrak leuweung di eta patempatan – wewengkon Cisompét nepi ka Pakénjéng. Sugan tepung jeung umatna anu birat, tapi lebeng. Pasukan Nagajayawarman ogé teu kapanggih saurang-urang acan. Terus ngalér deui, nepi ka Pasir Tujuhpuluh (Cikajang). Leuweung geledegan, batuna baradag sagedé pasir.

Di dinya nyawang ngalér ngidul, kabeneran halimun keur nyingray. Bréh Laut Kidul, asa hayang balik deui ka Sancang. Laju, turun mapay-mapay Cikaéngan. Sakur pasir anu diperhatikeun ku Rakryan Sancang, biwirna ngucapkeun: Subhanalloh. Di Sancang ogé, suwung. Taya saurang ogé umatna, atawa musuh nu nyampak. Basisir anu upluk-aplak, pinuh ku kikisik anu tingborélak. Biwirna, deui-deui ngucapkeun: Subhanalloh, bari ngeclakkeun cimata.

Di Sancang, asup ka hiji guha – ngadon tirakat. Meunang sababaraha minggu, jengkar ti guha terus indit ka Kalér –ka tempat panyawangan. Belecet deui ka Kulon, mapay-mapay pasir jeung leuweung. Lebah Gunung Kolot, ngarandeg heula. Sanggeus ngarandeg, ku sabab panasaran, Rakryan Sancang nuluykeun lalampahanana ngembat ngalér terus ngétan nuju ka Tarumanagara.

Anjog di puseur dayeuh Tarumanagara, Rakryan Sancang ngelendep asup ka karaton – rék nyieun karaman di dinya. Tapi kaburu sadar, yén kitu peta téh teu matut jeung teu dipirido ku Hyang Tunggal tatwa panganjali – Alloh SWT. Atuh niat nyieun kakacowan téh, bolay.
Geus wareg aya di wilayah karajaan bapana, Rakryan Sancang balik deui ka Kidul. Mapay-mapay walungan Cimanuk, anjog deui ka Pasir Tujuhpuluh. Di Pasir Tujuhpuluh, Rakryan Sancang ngababakan nyieun padépokan nepi ka maotna. Méméh dipundut ku nu Maha Kawasa, nyieun lalayang wasiat.

Ditulisna dina kulit uncal, meunang moro di éta pileuweungan. Eusina nyebutkeun ‘kakayaan urang Sunda nu ngahaja nyumput di pakidulan’ jeung wasiat pangwawadi, sakur ka anu bisa maca éta lalayang – anu ditulis ku aksara Arab, ‘kudu nyebarkeun agama Islam’. Éta wasiat bakal kabaca ku turunan Raja Sunda, kurang tujuh abad anu bakal datang. Jeung tujuh abad deui, pakaya Sunda baris kagali.

Wallohu’alam biroomudih
Satemenna mah, karajaan Islam anu munggaran téh ayana di wewengkon basisir Kidul Pulo Jawa – Tatar Sunda.

Gunung Nagara, tapi éta téh mung ukur karajaan leutik anu ka éléh ku Tarumanagara. Karatonna nelah : Suramandiri, Tatar Sunda mangsa harita, disebut: Parahyangan.



Baca juga situs : https://www.wattpad.com/5139450-kiansantang-antara-mitos-dan-sejarah/page/6

0 komentar:

Posting Komentar